Showing posts with label Kontemplasi. Show all posts
Showing posts with label Kontemplasi. Show all posts

Thursday, 20 September 2018

Catatan Seorang Anarko

Beberapa tahun yang lalu aku berkenalan dengan seorang laki-laki muda. Andreas namanya. Perkenalan kami memang tak sengaja, kala itu kami sama-sama suka berselancar di Twitter dan seringkali saling berbalas cuitan. Andreas selalu mencuitkan hal-hal yang cukup keras, kritis, frontal, politis tapi pada saat yang sama, santai dan kocak. Kata-katanya tajam dan cukup menohok. Aku cukup suka dengan gayanya yang berani namun santai. Belakangan aku juga tahu Andreas banyak menyuarakan dukungannya atas keadilan gender dan kesetaraan hak kawan-kawan LGBT, pecandu dan ODHA. Bahkan dia cukup keras menyuarakan hal-hal tersebut.

Thursday, 31 May 2018

Reclaim Your Life

Senja muram kala itu. Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk ke chat messenger-ku. Seorang kawan lama yang kukenal sudah sejak tahun duaribuan. Dulu kami pernah bekerja di tempat yang sama, lalu sama-sama keluar dan berkarir di tempat lain. Ayra namanya. Umurnya sedikit di atasku.

Kami berteman di media sosial selepas resign dari tempat kerja yang lama. Dia termasuk cukup aktif menanggapi hal-hal yang aku posting di media sosialku. Namun sudah beberapa bulan belakangan ini aku tak melihat ada aktifitas di akunnya. Aku kira, seperti halnya orang kebanyakan, dia sibuk.

Thursday, 26 April 2018

Bentang Asa



Kala itu awal tahun 2007. Anton, Koordinator Lapanganku memanggilku sepulang aku dari rumah sakit. "Rat, nanti bakal ada yang dateng. Cowok sama ceweknya. Cowoknya temen lama gue sih... Pada baru tau status. Cowoknya biar sama gue, ceweknya lu yang handle ya?" dia memberikan briefing kepadaku. Aku mengangguk. "Lu ajak ngobrol lah ceweknya. Dia kena dari cowoknya, jadi agak stress gitu. Ya... lu liat aja nanti deh, pasti lu lebih tau gimana cara nanganinya." Anton menyambung brief-nya. Lagi-lagi aku mengangguk. 

Monday, 23 April 2018

Never Say Goodbye!


Medio 2016 telepon genggamku berdering. Ardian. Aku tersenyum kecil, sebab sudah lama sekali kami tidak saling berkomunikasi. Hanya sesekali berbalas komentar di media sosial atau chat. "Haloooo!" sapaku ketika menjawab panggilan masuk darinya. "Sist, kumaha kabar maneh?" kata laki-laki di ujung sana dalam bahasa Sunda. Aku tertawa, "Baik... Maneh kamana wae siiih? Sibuk pisan nyak?" aku membalas. Ardian tertawa, "Iya euy. Gue susah banget mau ambil cuti. Maklum lah, kacung kampret. Banyak dikasih tugas sama boss. Disuruh ngerjain ini-itu, ke sana kemari." cerocosnya seperti biasa. "Gileeeee! Gaji lu dua kali GBK yak gedenya? Hahahaha" aku berseloroh, dia pun ikut tergelak.

Thursday, 19 April 2018

Fighting the Shadows

Ini sudah tahun keduabelas sejak aku didiagnosa positif mengidap HIV. Sudah banyak hal yang terjadi, sudah banyak kawan yang pergi, sudah pula banyak yang memulai hidup baru. Hidup memang terasa berjalan seperti apa adanya saja buatku. Ada suka, ada duka, ada marah, ada canda. Satu hal yang pasti adalah aku sudah sejak lima tahun terakhir mulai sedikit demi sedikit melepaskan kemelekatanku dengan isu HIV/AIDS dan mulai belajar isu yang lain. Bukan karena aku sudah merasa cukup, tapi karena masih banyak kawan-kawan lain yang harus diberi kesempatan untuk belajar. Kalau kata generasi milenial, sudah waktunya untuk move on.

Tuesday, 12 January 2016

41/10

Photographed by Dian Suminar 

11 Januari 1975 - 2016
Senin kemarin adalah hari di mana aku melewati tahun pertama usia 40-an. I was turning 41! Tapi umur hanyalah angka bagiku. Aku selalu berkata "I am a 21 year old woman trapped in a 40-ish year old body!" Semangatku untuk belajar, bertualang dan bersuka ria masih sama dengan ketika aku baru saja menginjak usia 21 tahun. 

Monday, 1 June 2015

Ini Bukan Stigma...

Aku menatap kalender yang tertera pada layar ponselku. Sudah berapa lamakah? Bertahun-tahun... Ya, sudah lewat dari lima tahun setidaknya, namun ternyata masih saja ada lontaran kalimat-kalimat yang membuat bulu kudukku berdiri. "Ini bukan stigma..." begitu ujarnya. Aku hanya diam. Jika ini bukan stigma, lalu apa? - aku membatin sendiri. Bertahun-tahun aku mencari jawabannya, namun tak kunjung aku temui.


Tuesday, 10 February 2015

Aku Panggil Dia Alyssa

Cuaca sore hari di Pulau Bintan sangat cerah. Langit biru, angin sejuk dan matahari bersinar. Aku mengendarai motor bersama dengan 2 orang Manajer Kasus dan 2 orang Buddies dari sebuah LSM di Tanjung Pinang. Tujuan kami adalah ke Gunung Kijang. Home visit. "Ada seorang perempuan muda yang positif di salah satu panti jompo di sana mbak. Dia diisolasi karena pengobatan TB-nya belum tuntas. Sedikit lagi kok..." begitu Lia, Manajer Kasus, memberikan informasi kemarin. "Dia itu agak terbelakang, tapi tidak parah. Tuna wicara tapi bisa berkomunikasi. Tingkahnya seperti anak kecil yang jauh di bawah umurnya." sambung Lia. Aku tak sabar untuk menemui gadis ini.

Friday, 3 October 2014

Di Mana Kamu, Amanda....?




Sore itu aku berjanji untuk bertemu dengan salah seorang teman lamaku. Kami sama-sama tinggal di Jakarta, tapi sama sekali belum pernah bertemu. Rupanya tidak sengaja dia melihat foto dan interview-ku di sebuah majalah, lalu dia mencari tahu nomor teleponku melalui redaksi majalah tersebut. Setelah sekian kali janjian dan batal, kami akhirnya bisa menemukan hari dan waktu yang disepakati bersama. Sebuah kedai kopi di daerah Mega Kuningan menjadi tempat pertemuan kami.

Wednesday, 1 October 2014

Sang Jagoan

Malam itu Jakarta cerah, tak hujan tapi angin cukup membawa rasa sejuk. Aku duduk di bangku sebuah taman di pusat kota bersama seorang kawan. Nama aslinya Rahadian, tapi dia lebih dikenal dengan panggilan "Bosang". Katanya, Bosang itu singkatan dari "bocah sangar". Wajahnya memang agak sangar, menurutku. Tapi hatinya baik dan dia adalah teman nongkrong yang sangat menyenangkan. Aku bisa menghabiskan waktu seharian dengannya hanya untuk kongkow dan mendengarkan cerita-ceritanya. Bosang selalu punya cerita yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Selain itu, Bosang juga teman yang baik. Dia selalu menjagaku dari gangguan laki-laki iseng atau preman jalanan (maklum lah, kami lebih sering nongkrong di taman dan di pinggir jalan daripada di kafe atau mall). Perawakannya yang tinggi besar dengan badan dipenuhi tattoo membuat dia memang terkesan sangar. Apalagi jika tidak kenal. Bosang sering bercerita bagaimana tattoo-nya itu membuat orang menghindarinya ketika bertemu di jalan. "Orang tuh kalo liat tattoo di tangan gue ini, udah langsung males aja ngelewatin gue kalo lagi di jalan, Rat. Pada minggir semua. Lu doang yang berani begajulan nabrak-nabrak gue seenaknya, tau!" begitu katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Wednesday, 25 September 2013

Salah Siapa?

Sore itu cerah sekali. Aku melangkah cepat-cepat di sepanjang lorong rumah sakit itu. Nyaris berlari. Ini malam Minggu dan aku yang sudah setengah jalan untuk pergi berkencan terpaksa harus putar haluan dan menuju rumah sakit. Ada pasien yang koma. Seorang siswa sekolah menengah atas, bintang basket dan masih salah satu kerabat jauh dari sebuah keluarga terpandang di Bandung. Bukan kombinasi yang baik. Aku sudah mencium hawa konflik sesaat setelah menerima panggilan di telepon genggamku, “Ada dampingan baru untuk kamu, Rat… tapi dia sudah dalam keadaan koma sekarang. AIDS dementia. Bisa ke rumah sakit sekarang nggak? Saya baru aja keluar dari Cikarang menuju Bandung. Orang tuanya belum tahu status & penyakitnya… Sepertinya dia tidak tinggal dengan orang tuanya selama ini. Saya SMS nama dan bangsalnya ya? Sesampainya di Bandung nanti saya langsung kesana juga.” begitu kata Dokter Indra kepadaku.