Senja muram kala itu. Tiba-tiba sebuah pesan singkat masuk ke chat messenger-ku. Seorang kawan lama yang kukenal sudah sejak tahun duaribuan. Dulu kami pernah bekerja di tempat yang sama, lalu sama-sama keluar dan berkarir di tempat lain. Ayra namanya. Umurnya sedikit di atasku.
Kami berteman di media sosial selepas resign dari tempat kerja yang lama. Dia termasuk cukup aktif menanggapi hal-hal yang aku posting di media sosialku. Namun sudah beberapa bulan belakangan ini aku tak melihat ada aktifitas di akunnya. Aku kira, seperti halnya orang kebanyakan, dia sibuk.
"Halo Ra..." sapanya.
"Halo ceuceukuuuuu... Kamu kemana aja?" aku membalas chat nya.
"Aku baru keluar Ra. Masih recovery, krisis emosi, krisis kepercayaan diri, jati diri... apalagi ekonomi..." tulisnya. "Aku stuck." lanjutnya.
Aku tertegun membaca pesan darinya. Recovery? Ketergantungan napza kah? Sepanjang aku kenal dengannya, tak sekalipun pernah terlintas di pikiranku bahwa dia suka menggunakan napza. Ayra adalah sosok yang ceria, sedikit judes tapi kami punya hubungan yang baik sebagai rekan kerja.
"Iya makanya, cerita dong kalau ada apa-apa." aku menukas. "Nah, ketik aja. Nanti kalau udah beres, baru aku respon. Biar enak, nggak kepotong-potong." lanjutku memberi tanda.
Lalu meluncurlah sebuah kisah panjang yang tak pernah aku sangka akan datang darinya. Rupanya dia sempat kerja di Jakarta. Akhir bulan November tahun 2014 adalah kali pertama Ayra mulai menggunakan sabu. Pacarnya kala itu dan GM tempatnya bekerja yang mengenalkannya pada sabu. Aku tak pernah tahu kalau dia pernah bekerja di Jakarta. Akhir tahun 2016 Ayra kembali ke Bandung, pacarnya membuntuti ke Bandung dan ditarik masuk ke manajemen sebuah perusahaan di sana. Kebiasaan menggunakan sabu masih terus berlanjut, bahkan seringkali bersama-sama dengan anggota kepolisian. "Aku pengguna aktif, Ra. Setiap hari selalu pakai." imbuh Ayra. "Tanggal 1 Agustus 2017, aku dipancing polisi untuk bawa barang. Mereka lagi cari garapan. Alasannya waktu itu temanku mau beli." Ayra meneruskan ceritanya. Kisah klise yang sudah terlalu sering aku dengar. "Waktu itu, selama setahun terakhir aku selalu pake dan bawa ke mana pun aku pergi. Di tas kerja aja selalu tersedia bahan dan peralatan..." lanjutnya. Aku menahan nafas sedikit, "Begitu janjian untuk ketemu di suatu tempat, aku langsung digep sama polisi. Pas banget di depan tempat kerjaku." Ayra terus bercerita. Aku terkesiap.
"Aku nggak bisa ngelak. Kegep kayak gitu, apa aku nggak bingung? Mau nggak mau, aku jadinya mancing temenku yang biasa aku jadiin tempat beli bahan. Keluar juga namanya." Ayra meneruskan ceritanya, aku terus membaca dengan kening berkerut. "Habis itu aku dibawa keliling-keliling. Dibawa ke lab Paskal untuk tes urine. Bayar sendiri pula! Hasilnya positif." aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya kala itu. Tentu galau dan gelisah. Panik, takut dan entah apa lagi. "Di polres, setelah satu jam baru ada komunikasi dengan yang di atas aku. Transaksinya transfer. Lalu kami disuruh janjian di bank tertentu untuk ambil barang. Dia kena juga..." Ayra terus mengetik. "Aku yang berharap bisa pulang dengan sistem 'tukar kepala', ternyata masuk juga." Aku bisa menangkap nada kecewa dalam kalimat yang dikirimnya.
Kisah Ayra adalah kisah klasik penangkapan pengguna napza. "Setelah aku ditahan, HP mereka yang pegang. Aku nggak bisa kontak siapapun. Aku cuma minta hakku untuk melakukan satu kali panggilan telepon. Tapi temen deketku yang juga polisi nggak mau membantu. Jadilah aku nginap di tahanan semalem. Besoknya langsung proses BAP. Temenku yang polisi itu sempat datang, deketin unit yang nangkep. Entah gimana hasilnya. Yang jelas, aku cuma nunggu dan nunggu. Dibilangnya ditahan dulu karena masih proses...."
Segala sesuatu yang ada selama proses peradilan berlangsung memang tak pernah pasti. Kadang berlarut-larut. Adakalanya terburu-buru. Ayra juga mengalami hal yang sama. Setelah menunggu seharian, tiba-tiba sore harinya Kasubnit polres secara marathon memroses semua dokumen Ayra. Lalu Ayra langsung dipindahkan ke Polrestabes dan tidak keluar lagi. "Waktu itu Kasubnit Unit 3 Divisi Narkoba di Polrestabes bilang, 'bulan ini kita belum ada kasus...' itu yang nyesek dengernya, Ra. Aku serasa jadi komoditas buat kerjaan mereka! Nyari prestasi..." Meski sudah sering mendengar hal serupa, aku tetap saja kesal. "Waktu itu aku udah bisa pinjem HP. Aku kontak kantor. Tapi masih minta anak buahku untuk keep silent. Jangan bilang sama siapapun. Tapi yaaa gitu deh. Nggak bertahan lama..." Aku bisa merasakan kesedihan dalam pesan yang ditulisnya. "Akhirnya anakku yang besar nyari ke kantor, seminggu setelah penangkapan. Dia nyari, 'mamah ke mana?' katanya. Temen-temen di tempat kerjaku kasihan liat anakku selama seminggu nyari-nyari terus. Akhirnya dikasih tau kalau aku ada di Polrestabes...." Astaga! Aku hampir lupa jika Ayra sudah punya tiga anak gadis! Mereka tentu bingung ibunya tak kunjung pulang ke rumah. Namun aku juga tak bisa membayangkan bagaimana perasaan si sulung ketika mendengar kabar itu. Dia pasti tak percaya.
"Kasusku dilanjutin, Ra. Nggak bisa 86. Kena vonis setahun. Aku ngambil program Cuti Bersyarat, meski telat. Udah bisa keluar setelah 2 bulan di Polrestabes dan 7 bulan di LPP. Alhamdulillah..." tak terasa air mataku merebak sedikit. "Kamu selama proses itu kena berapa, ceu?" tanyaku dengan penuh rasa ingin tahu. "Sekitar 35 juta. Ngikis barbuk, Ra. Kalau pasang badan ancamannya 2 sampe 4 taun buat PN. Mainnya di kejaksaan. Kalau di Jakarta kan pemakai kenanya 5 sampe 7 taun. Di LPP aku kebanyakan warga binaan transferan dari Jakarta, Bogor, Sukabumi, Karawang, Purwakarta. Jabar deh pokoknya. Biasanya yang dari Jakarta kalau kena lagi kasus narkoba pas lagi di dalem, dilempar ke Bandung atau Semarang, apes-apes ke Lampung. Terus, kita digabung juga sama tipikor dan pidum tapi narkoba paling banyak." Ayra menjelaskan padaku. "Kamu kena pasal berapa ceu?" aku sedikit penasaran. "112 tapi 127 yang naik..." jawabnya. Klasik! "Dari polisi pasal yang didakwakan 112. pasal kepemilikan. Pasal abu-abunya narkoba. Trus mereka tanya, jadi ini ke depan mau dibawa ke mana? 114 apa 127? Akhirnya yang naik 127." Ayra menceritakan. Ada sedikit rasa dongkol yang bisa aku rasakan dalam pesannya.
Kisah Ayra mengingatkanku akan novel "Dari Balik Lima Jeruji" yang aku tulis dua tahun lalu. Apa yang diceritakannya persis seperti apa yang diceritakan narasumber untuk novel itu. So surreal! "Proses pengadilan makan waktu sekitar 2 bulan. Tergantung kesepakatan sama jaksa. Uang mau masuk berapa. Kapan masuknya. Kalau nggak masuk sama sekali, selain alasan sibuk dengan sidang lain, paling cuma 2 kali sidang langsung kelar. Kemarin aku ngabisin 9 kali sidang. Tawar menawar. Meski nggak mau terima, dengan dana seadanya, mau nggak mau ya aku terima vonis setahun. Nggak bisa kurang. Padahal berharap dapet 10 bulan. Dengan program bisa cuma 7 bulan jadinya." Ayra menceritakan lebih lanjut. "Rentut satu tahun 3 bulan, vonis setahun. Padahal hakim bisa menggunakan haknya sampe 2/3 vonis. Sedih kan? Karena duitnya kurang, jaksanya sampe bilang, 'tambahin atuuuuh' pas keluar dari ruang sidang. Aku langsung mewek, Ra.... Subhannallah..." Air mataku kembali merebak, "Astaga, terang-terangan banget ya, ceu..." jawabku. "Iya... Temenku udah habis 500 juta tapi tetep kena 9 taun. Banding ditolak. Udah keluar lagi 50 juta buat memori banding. Buat bikin JC sekitar 10 juta. Kalau dia lanjut terus, diminta sekitar 250 juta lagi! Edan!" Aku menghela nafas membacanya. "Statusku itu tetep tahanan sampe 5 bulan, Ra. Baru jadi status napi LK 2 bulan yang lalu. Karena BA 17 aku ditahan jaksa. Dia bilang mau bantu, sekitar 1 juta biayanya. Makanya aku baru turun petikan putusan akhir bulan Maret ekmarin. Padahal sidang udah dari bulan Oktober dan vonis bulan November taun lalu." Ayra terasa berapi-api menceritakan pengalamannya. "Tidak ada yang namanya petikan putusan turun by system. Semua harus 'diurus keluarga'. di Lapas aku selalu dibilangin, 'urus atuh sama keluarganya, biar BA 17 nya segera turun, jadi bisa langsung ngurusin program'. Kalau ikut program seharusnya aku udah keluar pas 2/3 masa hukuman, Ra. 30 Maret kemarin. Tapi karena dokumen aku telat, aku baru ngurus tanggal 26 Maret. Proses sidang program, terhambat sistem yang sempet offline. Mulur sebulan 6 hari. Sehari di lapas serasa setaun di luar, Ra..."
"Aku terputus komunikasi dengan dunia luar selama 7 bulan di LPP, Ra. Biaya hidup di dalem itu tinggi. Kalau bisa pegang HP, kayaknya mendingan aku pake makan. HP kalau kegep, kena Register F. Sel isolasi dan bisa ikut program. Cuma rokok yang ga bisa brenti. Mahal pun aku beli. Kalau kegep ada rokok, cuma disuruh lari keliling lapas. Jadi sehat malahan! Hahahaha..." Ayra masih berusaha untuk berkelakar. Aku tersenyum kecut sambil terus membaca pesan-pesannya. "Pertama masuk, HP itu barang mewah, susah buat nge-charge. Begitu mulai sidang, aku dapet dana bantuan dari temen-temen untuk beli HP. Tapi cuma tahan seminggu. Begitu habis batre, nggak ada uang untuk nge-charge. Hehehehe. Sudah. Tujuh bulan tanpa alat komunikasi. Biaya pas-pasan. Makan enak ya numpang-numpang...."
"Kamu pas ketangkep kemarin itu ditawari untuk rehab nggak, ceu?" aku bertanya sekedar ingin tahu saja. Karena menurut Undang Undang Narkotika yang baru, pengguna seharusnya bisa dikenai vonis rehab setelah ada assessment dari tim yang ditunjuk. Meskipun aku tahu persis praktiknya di lapangan nyaris nol besar, tak urung aku tetap penasaran. "Nggak. pas udah di LPP aku dikasih tau, ada LSM yang ngurusin rehab dengan biaya nggak terlalu tinggi. Cuma ya gitu. Akunya udah drop. Keluarga nggak ada yang nengok selama di polrestabes. Seolah mereka nggak ngurusin. Aku cuma dikasih tau sama staff kantorku kalau ada yang 'ngurusin' tapi nggak mau disebut namanya." jawab Ayra. Aku tak kaget dengan jawabannya. "
"Begitu keluar, nggak tau harus ngapain. Nggak punya kerjaan. Tabungan kandas, dibawa temenku yang polisi. HP aja aku pake punya si bungsu. Masa sulit masih terus berlanjut... Mudah-mudahan bisa kerja lagi segera...." Ada jeda beberapa saat sebelum aku melihat indikator Ayra menulis kembali. Aku mengurungkan niatku untuk merespon. Lebih baik dia keluarkan dulu semuanya, baru nanti aku tanggapi.
"Si sulung mau nikah bulan depan, Ra. Apa yang aku bisa lakukan buat dia? Nyaris belum ada. Cuma bisa hadir di tengah-tengah mereka? Apa cukup dengan begitu? Nope..." Ayra meneruskan curhatnya. "Di Singapura-nya mah udah kan ya, nikahnya? Tinggal di sini, bukan?" tanyaku. Aku dan anak sulung Ayra memang berteman di media sosial. Aku sering melihatnya posting dan gadis itu sungguh cemerlang dengan sederet prestasi akademik yang luar biasa. Dari media sosialnya juga aku mengetahui bahwa beberapa tahun belakangan ini dia menjalin hubungan serius dengan seorang laki-laki berkebangsaan Singapura. Dan pada suatu hari, gadis itu bergabung ke dalam grup Komunitas Pasangan Interracial yang kebetulan aku juga menjadi anggotanya. Gadis itu memperkenalkan diri dan memajang foto dengan pasangannya. Dia bertanya di grup itu soal persiapan registrasi pernikahannya di Indonesia, sebab mereka sudah menikah di Singapura dan sudah mendaftarkan pernikahannya di KBRI setempat. Gadis itu bahkan menyebut, "Saya dan suami..." di awal kalimat. Tentu mereka memang sudah melakukan pernikahan di catatan sipil setempat. Dia juga menyatakan bahwa keluarganya ingin ada akad nikah secara Islam, itulah mengapa dia bertanya soal registrasi pernikahannya di Indonesia. "Belum.... Waduh. Ada berita apa? Aku kelewat?" balas Ayra. Mati aku! Jantungku nyaris berhenti berdetak. Telanjur basah, akhirnya aku ceritakanlah soal posting pertanyaan anak sulungnya di grup. "Ooooh poor me..." jawab Ayra. Sungguh terasa kesedihannya yang mendalam. Bayangkan, dia ibu kandungnya, tapi harus tahu dari orang lain. "I'm so sorry, ceu..." aku membalas dengan penuh penyesalan. "No probs, Ra... Sekarang aku baru paham, kemarin dia ke sana sebulanan itu ternyata untuk register ya? Catatan Sipil, gitu?" tanyanya. "Iya." Jawabku pendek. "Tapi secara agama belum?" Ayra bertanya lagi. "Iya, ceu. Makanya dia bilang perlu akad..." jawabku lagi. "Okay... So, formally they've been married..." tulisnya lagi. "Yes. According to the law in Singapore..." jawabku dengan nafas sedikit tertahan. Ayra kemudian mengirimkan emoticon menangis, "I don't even know that." tulisnya. Akhirnya aku memutuskan untuk mengirimkan screenshot postingan pertanyaan si sulung di grup interracial, agar Ayra bisa membaca dan memahaminya sendiri.
"I'm a horrible mother..." katanya kemudian. Aku cepat-cepat mengetik respon balasan untuk Ayra, "No, ceu... Jangan mikir begitu. Si sulung kan udah besar, udah dewasa. Dia berhak menentukan sendiri. Mungkin dipikirnya ceuceu kemarin kan banyak masalah, jadi dia memutuskan sendiri." tulisku. "Aku ngasih info bukan pengen bikin ceuceu jadi sedih ya, tapi biar ceuceu tau aja. Gimana juga kan dia anakmu ya, biarlah dia nggak ngasih tau kamu langsung. Yang penting kamu tau tentang dia..." aku melanjutkan. "I feel so useless..." tulisnya lagi. "Ceu, kamu harus bangga sama dia. Lulus tepat waktu, pinter, banyak prestasinya dan dia melakukan apa yang disukai..." cepat-cepat aku menulis, "Yup. She always makes me proud..." ketiknya. Sejurus kemudian pesan lain masuk kembali, "Dan aku bukan ibu yang bisa dibanggakan sama sekali setelah kasus ini... In the past, I still have pride. Now, nothing's left anymore..." jawabnya. Aku terpana membaca kalimatnya. Layar telepon genggamku tiba-tiba buram. "Pelan-pelan, ceu. Tapi kamu kan udah melahirkan dan membesarkan anak yang kuat dan membanggakan lho. Itu harus dihitung juga sebagai prestasimu. Kalau bukan karena bibit-bibit didikanmu di masa kecil, dia nggak akan tumbuh cemerlang dan kuat..." aku merespon. Mencoba membesarkan hatinya. "She never counts that..." jawab Ayra. "Not yet. Biar aja dulu. Dia lagi marah sama kamu. Wajar ya... Mungkin sedih dan kecewa. Tapi nanti juga membaik kok..." Aku masih terus berusaha membesarkan hatinya.
Menjadi orang tua yang (merasa) mengecewakan anak bukanlah hal mudah. Beban psikologis yang ditanggung sangat besar. Bukan soal pride sebagai orang tua, bukan rasa gengsi, tapi rasa gagal yang menghantui itu jauh lebih menakutkan. Apalagi terjerat kasus seperti Ayra... Tentu rasa percaya dirinya porak poranda. Ayra jatuh ke titik terbawah dalam hidupnya. Aku bisa menduga, ketika dirinya tertangkap, dia merasa itulah titik terbawah. Lalu ketika dirinya akhirnya harus mendekam di LPP, dia baru sadar bahwa itulah titik terbawah baginya, bukan saat penangkapan. Tapi sejatinya titik terbawah dari yang terbawah adalah apa yang sedang dialaminya saat ini. Ketika dia merasa ada jarak dengan anak-anaknya, ketika dia merasakan ada rasa tak percaya dari orang sekitar dan ketika dia merasakan bahwa dirinya tidak berguna untuk anak-anaknya.
"She was once told me that I am only a burden and bring shame to the family. Dia pernah nyeletuk, 'Mama tabungan aja nggak punya kan?' I feel so useless now. I cannot even do anything for her wedding..." balas Ayra. "Anak juga punya perasaan, ceu. Wajar kalau dia marah dan kecewa, karena kan kita akui aja kemarin, you were rather a mess ya? Dalam hatinya kan dia inginnya kamu jadi idolanya sepanjang masa. Makanya ketika ada sesuatu terjadi seperti kemarin, dia sulit menerima. Perlu proses. Biarkan dia berproses, ceu. Dan sementara itu kamu pun berporses untuk jadi lebih baik lagi..." aku mengerahkan segala daya untuk menguatkan Ayra. "Dia sudah dewasa. Biarlah dia menjalani jalurnya sendiri. Tugas ceuceu kan udah selesai." lanjutku. "Has it?" tanyanya dengan aura keragu-raguan. "Iya dong. Sekarang ini waktunya kamu beresin PR-mu dengan diri sendiri. Benahi diri dan hidupmu, ceu. Nanti kalau semua beres, yang lain-lain akan mengikuti." tulisku lagi. "I have missed her important moment. Her graduation..." ada nada sedih dalam pesan yang ditulisnya. "Betul ceu. But it was only a ceremonial thing. Kamu masih bisa berbuat banyak untuk momen-momen lain dalam hidupnya..." jawabku. "I was thinking that her wedding is my last duty as a mother. But I still have no idea what should I do... Blank!" tulis Ayra. Aku tersenyum kecil, "Your duty for this is to give her your blessings and pray for her happiness, ceu..." aku menekan tombol "send". Lalu sejurus kemudian sederet emoticon menangis masuk. Ah Ayra, aku tahu betapa hancur hatimu. Tapi ini pelajaran hidup, dan mungkin adalah yang terbaik untukmu. "I don't want to lose her. I don't even know what's her plan after the wedding and I dare not to ask her. I really feel down..." Ayra mulai terdengar putus asa. Hatiku serasa dicubit membaca kalimatnya. Seorang ibu yang merasa gagal adalah yang paling sakit perasaannya. "Dia sinis terus sama aku, Ra..." kata Ayra lagi. "Biarkan prosesnya berjalan dulu aja, ceu. Dia juga sedang belajar memahami dan memaknai hidup. Kalian berdua sama-sama sedang belajar..." balasku.
"Thanks for listening, Ra... Setelah 10 taun, akhirnya aku punya kontak dirimu lagi..." Ayra menutup kisahnya hari itu. "You're welcome, ceu. Kalau ada apa-apa, ngobrol ya? Jangan Dipendem sendiri... be strong, ceu." aku menawarkan sambil mencoba menguatkan hatinya. "Insya Allah...." Ayra menjawab. Aku menghabiskan 30 menit setelah itu untuk membaca ulang semua chat dengan Ayra. Tak peduli sesering apa aku mendengar kisah semacam ini, aku tak pernah merasa terbiasa. Tetap selalu ada perasaan surreal yang merambat di dinding hatiku.
Aku berharap Ayra bisa terus kuat dan segera bangkit untuk menata hidupnya. Sementara si sulung sudah menjadi tanggung jawab suaminya, masih ada dua anak perempuan lain yang harus dipikirkannya. Si bungsu memang masih kecil, tapi anak keduanya sudah hendak masuk jenjang pendidikan tinggi sekarang. Ayra masih punya banyak pekerjaan rumah. Tapi aku benar-benar berharap dia akan tegar dan kuat, hingga suatu saat nanti dia akan mampu berdiri dengan penuh percaya diri. "Reclaim your life, sist! You deserve it!"
Kami berteman di media sosial selepas resign dari tempat kerja yang lama. Dia termasuk cukup aktif menanggapi hal-hal yang aku posting di media sosialku. Namun sudah beberapa bulan belakangan ini aku tak melihat ada aktifitas di akunnya. Aku kira, seperti halnya orang kebanyakan, dia sibuk.
"Halo Ra..." sapanya.
"Halo ceuceukuuuuu... Kamu kemana aja?" aku membalas chat nya.
"Aku baru keluar Ra. Masih recovery, krisis emosi, krisis kepercayaan diri, jati diri... apalagi ekonomi..." tulisnya. "Aku stuck." lanjutnya.
Aku tertegun membaca pesan darinya. Recovery? Ketergantungan napza kah? Sepanjang aku kenal dengannya, tak sekalipun pernah terlintas di pikiranku bahwa dia suka menggunakan napza. Ayra adalah sosok yang ceria, sedikit judes tapi kami punya hubungan yang baik sebagai rekan kerja.
"Iya makanya, cerita dong kalau ada apa-apa." aku menukas. "Nah, ketik aja. Nanti kalau udah beres, baru aku respon. Biar enak, nggak kepotong-potong." lanjutku memberi tanda.
Lalu meluncurlah sebuah kisah panjang yang tak pernah aku sangka akan datang darinya. Rupanya dia sempat kerja di Jakarta. Akhir bulan November tahun 2014 adalah kali pertama Ayra mulai menggunakan sabu. Pacarnya kala itu dan GM tempatnya bekerja yang mengenalkannya pada sabu. Aku tak pernah tahu kalau dia pernah bekerja di Jakarta. Akhir tahun 2016 Ayra kembali ke Bandung, pacarnya membuntuti ke Bandung dan ditarik masuk ke manajemen sebuah perusahaan di sana. Kebiasaan menggunakan sabu masih terus berlanjut, bahkan seringkali bersama-sama dengan anggota kepolisian. "Aku pengguna aktif, Ra. Setiap hari selalu pakai." imbuh Ayra. "Tanggal 1 Agustus 2017, aku dipancing polisi untuk bawa barang. Mereka lagi cari garapan. Alasannya waktu itu temanku mau beli." Ayra meneruskan ceritanya. Kisah klise yang sudah terlalu sering aku dengar. "Waktu itu, selama setahun terakhir aku selalu pake dan bawa ke mana pun aku pergi. Di tas kerja aja selalu tersedia bahan dan peralatan..." lanjutnya. Aku menahan nafas sedikit, "Begitu janjian untuk ketemu di suatu tempat, aku langsung digep sama polisi. Pas banget di depan tempat kerjaku." Ayra terus bercerita. Aku terkesiap.
"Aku nggak bisa ngelak. Kegep kayak gitu, apa aku nggak bingung? Mau nggak mau, aku jadinya mancing temenku yang biasa aku jadiin tempat beli bahan. Keluar juga namanya." Ayra meneruskan ceritanya, aku terus membaca dengan kening berkerut. "Habis itu aku dibawa keliling-keliling. Dibawa ke lab Paskal untuk tes urine. Bayar sendiri pula! Hasilnya positif." aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaannya kala itu. Tentu galau dan gelisah. Panik, takut dan entah apa lagi. "Di polres, setelah satu jam baru ada komunikasi dengan yang di atas aku. Transaksinya transfer. Lalu kami disuruh janjian di bank tertentu untuk ambil barang. Dia kena juga..." Ayra terus mengetik. "Aku yang berharap bisa pulang dengan sistem 'tukar kepala', ternyata masuk juga." Aku bisa menangkap nada kecewa dalam kalimat yang dikirimnya.
Kisah Ayra adalah kisah klasik penangkapan pengguna napza. "Setelah aku ditahan, HP mereka yang pegang. Aku nggak bisa kontak siapapun. Aku cuma minta hakku untuk melakukan satu kali panggilan telepon. Tapi temen deketku yang juga polisi nggak mau membantu. Jadilah aku nginap di tahanan semalem. Besoknya langsung proses BAP. Temenku yang polisi itu sempat datang, deketin unit yang nangkep. Entah gimana hasilnya. Yang jelas, aku cuma nunggu dan nunggu. Dibilangnya ditahan dulu karena masih proses...."
Segala sesuatu yang ada selama proses peradilan berlangsung memang tak pernah pasti. Kadang berlarut-larut. Adakalanya terburu-buru. Ayra juga mengalami hal yang sama. Setelah menunggu seharian, tiba-tiba sore harinya Kasubnit polres secara marathon memroses semua dokumen Ayra. Lalu Ayra langsung dipindahkan ke Polrestabes dan tidak keluar lagi. "Waktu itu Kasubnit Unit 3 Divisi Narkoba di Polrestabes bilang, 'bulan ini kita belum ada kasus...' itu yang nyesek dengernya, Ra. Aku serasa jadi komoditas buat kerjaan mereka! Nyari prestasi..." Meski sudah sering mendengar hal serupa, aku tetap saja kesal. "Waktu itu aku udah bisa pinjem HP. Aku kontak kantor. Tapi masih minta anak buahku untuk keep silent. Jangan bilang sama siapapun. Tapi yaaa gitu deh. Nggak bertahan lama..." Aku bisa merasakan kesedihan dalam pesan yang ditulisnya. "Akhirnya anakku yang besar nyari ke kantor, seminggu setelah penangkapan. Dia nyari, 'mamah ke mana?' katanya. Temen-temen di tempat kerjaku kasihan liat anakku selama seminggu nyari-nyari terus. Akhirnya dikasih tau kalau aku ada di Polrestabes...." Astaga! Aku hampir lupa jika Ayra sudah punya tiga anak gadis! Mereka tentu bingung ibunya tak kunjung pulang ke rumah. Namun aku juga tak bisa membayangkan bagaimana perasaan si sulung ketika mendengar kabar itu. Dia pasti tak percaya.
"Kasusku dilanjutin, Ra. Nggak bisa 86. Kena vonis setahun. Aku ngambil program Cuti Bersyarat, meski telat. Udah bisa keluar setelah 2 bulan di Polrestabes dan 7 bulan di LPP. Alhamdulillah..." tak terasa air mataku merebak sedikit. "Kamu selama proses itu kena berapa, ceu?" tanyaku dengan penuh rasa ingin tahu. "Sekitar 35 juta. Ngikis barbuk, Ra. Kalau pasang badan ancamannya 2 sampe 4 taun buat PN. Mainnya di kejaksaan. Kalau di Jakarta kan pemakai kenanya 5 sampe 7 taun. Di LPP aku kebanyakan warga binaan transferan dari Jakarta, Bogor, Sukabumi, Karawang, Purwakarta. Jabar deh pokoknya. Biasanya yang dari Jakarta kalau kena lagi kasus narkoba pas lagi di dalem, dilempar ke Bandung atau Semarang, apes-apes ke Lampung. Terus, kita digabung juga sama tipikor dan pidum tapi narkoba paling banyak." Ayra menjelaskan padaku. "Kamu kena pasal berapa ceu?" aku sedikit penasaran. "112 tapi 127 yang naik..." jawabnya. Klasik! "Dari polisi pasal yang didakwakan 112. pasal kepemilikan. Pasal abu-abunya narkoba. Trus mereka tanya, jadi ini ke depan mau dibawa ke mana? 114 apa 127? Akhirnya yang naik 127." Ayra menceritakan. Ada sedikit rasa dongkol yang bisa aku rasakan dalam pesannya.
Kisah Ayra mengingatkanku akan novel "Dari Balik Lima Jeruji" yang aku tulis dua tahun lalu. Apa yang diceritakannya persis seperti apa yang diceritakan narasumber untuk novel itu. So surreal! "Proses pengadilan makan waktu sekitar 2 bulan. Tergantung kesepakatan sama jaksa. Uang mau masuk berapa. Kapan masuknya. Kalau nggak masuk sama sekali, selain alasan sibuk dengan sidang lain, paling cuma 2 kali sidang langsung kelar. Kemarin aku ngabisin 9 kali sidang. Tawar menawar. Meski nggak mau terima, dengan dana seadanya, mau nggak mau ya aku terima vonis setahun. Nggak bisa kurang. Padahal berharap dapet 10 bulan. Dengan program bisa cuma 7 bulan jadinya." Ayra menceritakan lebih lanjut. "Rentut satu tahun 3 bulan, vonis setahun. Padahal hakim bisa menggunakan haknya sampe 2/3 vonis. Sedih kan? Karena duitnya kurang, jaksanya sampe bilang, 'tambahin atuuuuh' pas keluar dari ruang sidang. Aku langsung mewek, Ra.... Subhannallah..." Air mataku kembali merebak, "Astaga, terang-terangan banget ya, ceu..." jawabku. "Iya... Temenku udah habis 500 juta tapi tetep kena 9 taun. Banding ditolak. Udah keluar lagi 50 juta buat memori banding. Buat bikin JC sekitar 10 juta. Kalau dia lanjut terus, diminta sekitar 250 juta lagi! Edan!" Aku menghela nafas membacanya. "Statusku itu tetep tahanan sampe 5 bulan, Ra. Baru jadi status napi LK 2 bulan yang lalu. Karena BA 17 aku ditahan jaksa. Dia bilang mau bantu, sekitar 1 juta biayanya. Makanya aku baru turun petikan putusan akhir bulan Maret ekmarin. Padahal sidang udah dari bulan Oktober dan vonis bulan November taun lalu." Ayra terasa berapi-api menceritakan pengalamannya. "Tidak ada yang namanya petikan putusan turun by system. Semua harus 'diurus keluarga'. di Lapas aku selalu dibilangin, 'urus atuh sama keluarganya, biar BA 17 nya segera turun, jadi bisa langsung ngurusin program'. Kalau ikut program seharusnya aku udah keluar pas 2/3 masa hukuman, Ra. 30 Maret kemarin. Tapi karena dokumen aku telat, aku baru ngurus tanggal 26 Maret. Proses sidang program, terhambat sistem yang sempet offline. Mulur sebulan 6 hari. Sehari di lapas serasa setaun di luar, Ra..."
"Aku terputus komunikasi dengan dunia luar selama 7 bulan di LPP, Ra. Biaya hidup di dalem itu tinggi. Kalau bisa pegang HP, kayaknya mendingan aku pake makan. HP kalau kegep, kena Register F. Sel isolasi dan bisa ikut program. Cuma rokok yang ga bisa brenti. Mahal pun aku beli. Kalau kegep ada rokok, cuma disuruh lari keliling lapas. Jadi sehat malahan! Hahahaha..." Ayra masih berusaha untuk berkelakar. Aku tersenyum kecut sambil terus membaca pesan-pesannya. "Pertama masuk, HP itu barang mewah, susah buat nge-charge. Begitu mulai sidang, aku dapet dana bantuan dari temen-temen untuk beli HP. Tapi cuma tahan seminggu. Begitu habis batre, nggak ada uang untuk nge-charge. Hehehehe. Sudah. Tujuh bulan tanpa alat komunikasi. Biaya pas-pasan. Makan enak ya numpang-numpang...."
"Kamu pas ketangkep kemarin itu ditawari untuk rehab nggak, ceu?" aku bertanya sekedar ingin tahu saja. Karena menurut Undang Undang Narkotika yang baru, pengguna seharusnya bisa dikenai vonis rehab setelah ada assessment dari tim yang ditunjuk. Meskipun aku tahu persis praktiknya di lapangan nyaris nol besar, tak urung aku tetap penasaran. "Nggak. pas udah di LPP aku dikasih tau, ada LSM yang ngurusin rehab dengan biaya nggak terlalu tinggi. Cuma ya gitu. Akunya udah drop. Keluarga nggak ada yang nengok selama di polrestabes. Seolah mereka nggak ngurusin. Aku cuma dikasih tau sama staff kantorku kalau ada yang 'ngurusin' tapi nggak mau disebut namanya." jawab Ayra. Aku tak kaget dengan jawabannya. "
"Begitu keluar, nggak tau harus ngapain. Nggak punya kerjaan. Tabungan kandas, dibawa temenku yang polisi. HP aja aku pake punya si bungsu. Masa sulit masih terus berlanjut... Mudah-mudahan bisa kerja lagi segera...." Ada jeda beberapa saat sebelum aku melihat indikator Ayra menulis kembali. Aku mengurungkan niatku untuk merespon. Lebih baik dia keluarkan dulu semuanya, baru nanti aku tanggapi.
"Si sulung mau nikah bulan depan, Ra. Apa yang aku bisa lakukan buat dia? Nyaris belum ada. Cuma bisa hadir di tengah-tengah mereka? Apa cukup dengan begitu? Nope..." Ayra meneruskan curhatnya. "Di Singapura-nya mah udah kan ya, nikahnya? Tinggal di sini, bukan?" tanyaku. Aku dan anak sulung Ayra memang berteman di media sosial. Aku sering melihatnya posting dan gadis itu sungguh cemerlang dengan sederet prestasi akademik yang luar biasa. Dari media sosialnya juga aku mengetahui bahwa beberapa tahun belakangan ini dia menjalin hubungan serius dengan seorang laki-laki berkebangsaan Singapura. Dan pada suatu hari, gadis itu bergabung ke dalam grup Komunitas Pasangan Interracial yang kebetulan aku juga menjadi anggotanya. Gadis itu memperkenalkan diri dan memajang foto dengan pasangannya. Dia bertanya di grup itu soal persiapan registrasi pernikahannya di Indonesia, sebab mereka sudah menikah di Singapura dan sudah mendaftarkan pernikahannya di KBRI setempat. Gadis itu bahkan menyebut, "Saya dan suami..." di awal kalimat. Tentu mereka memang sudah melakukan pernikahan di catatan sipil setempat. Dia juga menyatakan bahwa keluarganya ingin ada akad nikah secara Islam, itulah mengapa dia bertanya soal registrasi pernikahannya di Indonesia. "Belum.... Waduh. Ada berita apa? Aku kelewat?" balas Ayra. Mati aku! Jantungku nyaris berhenti berdetak. Telanjur basah, akhirnya aku ceritakanlah soal posting pertanyaan anak sulungnya di grup. "Ooooh poor me..." jawab Ayra. Sungguh terasa kesedihannya yang mendalam. Bayangkan, dia ibu kandungnya, tapi harus tahu dari orang lain. "I'm so sorry, ceu..." aku membalas dengan penuh penyesalan. "No probs, Ra... Sekarang aku baru paham, kemarin dia ke sana sebulanan itu ternyata untuk register ya? Catatan Sipil, gitu?" tanyanya. "Iya." Jawabku pendek. "Tapi secara agama belum?" Ayra bertanya lagi. "Iya, ceu. Makanya dia bilang perlu akad..." jawabku lagi. "Okay... So, formally they've been married..." tulisnya lagi. "Yes. According to the law in Singapore..." jawabku dengan nafas sedikit tertahan. Ayra kemudian mengirimkan emoticon menangis, "I don't even know that." tulisnya. Akhirnya aku memutuskan untuk mengirimkan screenshot postingan pertanyaan si sulung di grup interracial, agar Ayra bisa membaca dan memahaminya sendiri.
"I'm a horrible mother..." katanya kemudian. Aku cepat-cepat mengetik respon balasan untuk Ayra, "No, ceu... Jangan mikir begitu. Si sulung kan udah besar, udah dewasa. Dia berhak menentukan sendiri. Mungkin dipikirnya ceuceu kemarin kan banyak masalah, jadi dia memutuskan sendiri." tulisku. "Aku ngasih info bukan pengen bikin ceuceu jadi sedih ya, tapi biar ceuceu tau aja. Gimana juga kan dia anakmu ya, biarlah dia nggak ngasih tau kamu langsung. Yang penting kamu tau tentang dia..." aku melanjutkan. "I feel so useless..." tulisnya lagi. "Ceu, kamu harus bangga sama dia. Lulus tepat waktu, pinter, banyak prestasinya dan dia melakukan apa yang disukai..." cepat-cepat aku menulis, "Yup. She always makes me proud..." ketiknya. Sejurus kemudian pesan lain masuk kembali, "Dan aku bukan ibu yang bisa dibanggakan sama sekali setelah kasus ini... In the past, I still have pride. Now, nothing's left anymore..." jawabnya. Aku terpana membaca kalimatnya. Layar telepon genggamku tiba-tiba buram. "Pelan-pelan, ceu. Tapi kamu kan udah melahirkan dan membesarkan anak yang kuat dan membanggakan lho. Itu harus dihitung juga sebagai prestasimu. Kalau bukan karena bibit-bibit didikanmu di masa kecil, dia nggak akan tumbuh cemerlang dan kuat..." aku merespon. Mencoba membesarkan hatinya. "She never counts that..." jawab Ayra. "Not yet. Biar aja dulu. Dia lagi marah sama kamu. Wajar ya... Mungkin sedih dan kecewa. Tapi nanti juga membaik kok..." Aku masih terus berusaha membesarkan hatinya.
Menjadi orang tua yang (merasa) mengecewakan anak bukanlah hal mudah. Beban psikologis yang ditanggung sangat besar. Bukan soal pride sebagai orang tua, bukan rasa gengsi, tapi rasa gagal yang menghantui itu jauh lebih menakutkan. Apalagi terjerat kasus seperti Ayra... Tentu rasa percaya dirinya porak poranda. Ayra jatuh ke titik terbawah dalam hidupnya. Aku bisa menduga, ketika dirinya tertangkap, dia merasa itulah titik terbawah. Lalu ketika dirinya akhirnya harus mendekam di LPP, dia baru sadar bahwa itulah titik terbawah baginya, bukan saat penangkapan. Tapi sejatinya titik terbawah dari yang terbawah adalah apa yang sedang dialaminya saat ini. Ketika dia merasa ada jarak dengan anak-anaknya, ketika dia merasakan ada rasa tak percaya dari orang sekitar dan ketika dia merasakan bahwa dirinya tidak berguna untuk anak-anaknya.
"She was once told me that I am only a burden and bring shame to the family. Dia pernah nyeletuk, 'Mama tabungan aja nggak punya kan?' I feel so useless now. I cannot even do anything for her wedding..." balas Ayra. "Anak juga punya perasaan, ceu. Wajar kalau dia marah dan kecewa, karena kan kita akui aja kemarin, you were rather a mess ya? Dalam hatinya kan dia inginnya kamu jadi idolanya sepanjang masa. Makanya ketika ada sesuatu terjadi seperti kemarin, dia sulit menerima. Perlu proses. Biarkan dia berproses, ceu. Dan sementara itu kamu pun berporses untuk jadi lebih baik lagi..." aku mengerahkan segala daya untuk menguatkan Ayra. "Dia sudah dewasa. Biarlah dia menjalani jalurnya sendiri. Tugas ceuceu kan udah selesai." lanjutku. "Has it?" tanyanya dengan aura keragu-raguan. "Iya dong. Sekarang ini waktunya kamu beresin PR-mu dengan diri sendiri. Benahi diri dan hidupmu, ceu. Nanti kalau semua beres, yang lain-lain akan mengikuti." tulisku lagi. "I have missed her important moment. Her graduation..." ada nada sedih dalam pesan yang ditulisnya. "Betul ceu. But it was only a ceremonial thing. Kamu masih bisa berbuat banyak untuk momen-momen lain dalam hidupnya..." jawabku. "I was thinking that her wedding is my last duty as a mother. But I still have no idea what should I do... Blank!" tulis Ayra. Aku tersenyum kecil, "Your duty for this is to give her your blessings and pray for her happiness, ceu..." aku menekan tombol "send". Lalu sejurus kemudian sederet emoticon menangis masuk. Ah Ayra, aku tahu betapa hancur hatimu. Tapi ini pelajaran hidup, dan mungkin adalah yang terbaik untukmu. "I don't want to lose her. I don't even know what's her plan after the wedding and I dare not to ask her. I really feel down..." Ayra mulai terdengar putus asa. Hatiku serasa dicubit membaca kalimatnya. Seorang ibu yang merasa gagal adalah yang paling sakit perasaannya. "Dia sinis terus sama aku, Ra..." kata Ayra lagi. "Biarkan prosesnya berjalan dulu aja, ceu. Dia juga sedang belajar memahami dan memaknai hidup. Kalian berdua sama-sama sedang belajar..." balasku.
"Thanks for listening, Ra... Setelah 10 taun, akhirnya aku punya kontak dirimu lagi..." Ayra menutup kisahnya hari itu. "You're welcome, ceu. Kalau ada apa-apa, ngobrol ya? Jangan Dipendem sendiri... be strong, ceu." aku menawarkan sambil mencoba menguatkan hatinya. "Insya Allah...." Ayra menjawab. Aku menghabiskan 30 menit setelah itu untuk membaca ulang semua chat dengan Ayra. Tak peduli sesering apa aku mendengar kisah semacam ini, aku tak pernah merasa terbiasa. Tetap selalu ada perasaan surreal yang merambat di dinding hatiku.
Aku berharap Ayra bisa terus kuat dan segera bangkit untuk menata hidupnya. Sementara si sulung sudah menjadi tanggung jawab suaminya, masih ada dua anak perempuan lain yang harus dipikirkannya. Si bungsu memang masih kecil, tapi anak keduanya sudah hendak masuk jenjang pendidikan tinggi sekarang. Ayra masih punya banyak pekerjaan rumah. Tapi aku benar-benar berharap dia akan tegar dan kuat, hingga suatu saat nanti dia akan mampu berdiri dengan penuh percaya diri. "Reclaim your life, sist! You deserve it!"

No comments:
Post a Comment