Kala itu baru beberapa bulan aku mengetahui status HIV-ku. Seperti yang sudah kuduga sebelumnya, kabar tentang sakitnya mantan suamiku dan tertularnya aku diam-diam menyebar di kalangan mantan teman sejawatku di hotel. Dee menjadi juru bicaraku jika ada yang bertanya. Saat itu dia sudah lebih berlapang dada ketika harus mengonfirmasi berita tentang statusku. Tak terlalu emosional lagi.
Kisah-kisah perjalanan hidup. Pembelajaran tentang rasa sakit, kehilangan, kepahitan, kesedihan, kemarahan, kesederhanaan, cinta, pengorbanan, keteguhan, ketulusan dan kebangkitan...
Showing posts with label Blessing In Disguise. Show all posts
Showing posts with label Blessing In Disguise. Show all posts
Wednesday, 2 May 2018
Wednesday, 19 August 2015
Di Bawah Matahari Bali
Kana
mengamati butiran pasir yang terselip di sela jari kakinya. Pasir itu terasa
hangat. Baru pukul empat sore lebih sedikit, matahari belum turun di pantai
ini. Kana menikmati sinarnya yang hangat, ia tak peduli teriknya akan
menghitamkan kulit. Liburan. Begitulah yang ada dalam pikirannya saat itu.
Tiba-tiba Kana merasakan jemarinya digenggam. Damar. Kana tersenyum dalam hati.
Akhirnya ia bisa juga berjalan menyusuri pasir pantai Kuta bersama laki-laki
itu. Tak banyak yang diinginkannya, hanya menikmati matahari yang tenggelam dan
langit senja yang indah di pantai bersama Damar. Pantai mana pun, Kana tak
peduli, asalkan bersama Damar.
Thursday, 9 July 2015
Seleb ODHA Dari Pantura
Siang hari di daerah Subang Pantura bukanlah saat paling menyenangkan. Aku dan Wawan mengendarai motor menyusuri jalur Pantura yang ramai di bawah terik sorot matahari. Kami berlomba cepat bukan dengan mobil-mobil kecil, tapi dengan truk-truk kontener, thronton, truk gandeng dan sebangsanya. Setiap hari adalah uji nyali bagiku. Namun siang kali ini berbeda dengan siang hari-hari sebelumnya. Hari ini Wawan akan mengantarku ikut bergabung dalam pertemuan Kelompok Dukungan Sebaya setempat. "Dulu, aku pernah punya klien dampingan dari Subang juga. Namanya Eni dan Amin. Udah lama sekali aku nggak ketemu mereka, Wan..." aku berujar kepada Wawan ketika sedang makan malam sebelumnya. Wawan segera menghentikan kegiatan makannya, "Eni dan Amin, mbak?" tanyanya mengulang dua nama yang aku sebutkan. Aku menatapnya, "Iya, Wan. Eni dan Amin." aku mengulang lagi dengan setengah geli.
Tuesday, 30 September 2014
Cinta Tak Kenal Status
Laki-laki itu duduk di teras
bangsal rumah sakit. Matanya tampak menerawang menatap butiran hujan yang
jatuh. Ada sedikit kesenduan bercampur galau tergores di wajahnya. Suster Lia
mencolek lenganku, “Itu orangnya ya Rat… Sudah diberi tahu kalau Ratri mau
datang kok… Ingat ya Rat, dia belum tahu kalau istrinya juga korban perkosaan…
minta tolong nanti, kalau Ratri memberitahu, agak hati-hati. Sensitif soalnya…”
aku mengangguk sambil mengucapkan terima kasih karena telah diantar sampai ke
bangsal. Suster Lia lalu berbelok masuk ke ruang perawat, sementara aku terus
menuju ke arah laki-laki itu.
Wednesday, 25 September 2013
Cinta Itu Sederhana...
Pagi
itu aku tiba di klinik Teratai agak cepat. Belum lagi pukul 9, tapi pasien
sudah berderet. Beberapa wajah yang akrab denganku tersenyum menyapaku.
“Selamat pagi….!” Aku menyapa mereka sebelum masuk ke ruang administrasi
klinik. “Selamat pagi neng Ratri…”
sapa pak Toto, petugas administrasi klinik. “Pagi, Pak… Udah rame aja ya pak…
Baru jam segini.” Ujarku sambil meletakkan tasku dan mengalungkan kartu
identitas pendampingku. “Iya nih… Oya, ada ibu hamil yang positif tuh. Datang
bareng suaminya. Perlu ngobrol soal proses kelahiran. Nanti tolong di handle ya?” imbuh pak Toto sambil
mengarahkan pandangan ke sudut teras klinik. Aku mengikuti pandangan matanya.
Di sudut teras ada pasangan muda yang sedang mengobrol. Si perempuan berwajah
manis layaknya kembang desa. Si suami berwajah agak tengil. Aku melihat si
suami sesekali menggoda istrinya dan si perempuan akan memukul mesra lengan
suaminya, “Atuh aaah… Aa mah….” Lalu
mereka tertawa terkikik-kikik berdua. “Hmmm…. Manis sekali mereka berdua. Siapa
ya mereka?” Begitu pikirku. “Istrinya namanya Eni. Suaminya Amin, ya neng…” pak Toto seolah bisa membaca
pikiranku. “Oke pak….” Aku beranjak memanggil mereka untuk masuk ke ruang
konsultasi.
Subscribe to:
Posts (Atom)



