Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30 ketika telepon genggamku berdering. Tania. Tumben, begitu pikirku. Tania termasuk teman lamaku di komunitas. Kami pertama kali bertemu di konferensi AIDS di Bali tahun 2009. "Sist, sibuk nggak?" tanya suara di seberang ketika aku menjawab panggilan masuk itu. "Nggak kok. Ada apa , Tan?" tanyaku. Aku mendengar suaranya menghela nafas sebelum berbicara, "Sist, kayaknya kita harus mulai gerakan untuk mempertanyakan ARV deh. Pengobatan di Indonesia nih udah mulai nggak bener sekarang!" ujarnya sedikit berapi-api. Dahiku berkerut, "Emangnya kenapa?" tanyaku tak paham. Terdengar suara Tania mendengus kecil.
Kisah-kisah perjalanan hidup. Pembelajaran tentang rasa sakit, kehilangan, kepahitan, kesedihan, kemarahan, kesederhanaan, cinta, pengorbanan, keteguhan, ketulusan dan kebangkitan...
Showing posts with label Love Yourself. Show all posts
Showing posts with label Love Yourself. Show all posts
Monday, 7 May 2018
Sunday, 29 April 2018
Gadis Berkerudung Biru
Gadis muda itu duduk di hadapanku. Perawakannya mungil sehingga terlihat
begitu rentan. Bukan. Bukan ringkih. Fisiknya baik-baik saja, tapi jiwanya
resah. Namanya Maharani, aku belum lama mengenalnya. Seorang kawan lamaku yang
mengenalkan kami ketika piknik ke hutan Mangroove. Maharani adalah seorang guru
les yang masih muda. Usianya baru duapuluhan. Dia membetulkan kerudung biru
yang dikenakannya. “Bunda, aku mau curhat…” begitu ujarnya pelan. Suaranya
memang lembut dan terkesan pemalu. Tapi jika sudah kenal, dia cukup ceriwis
juga. “Ya udah… Kamu cerita aja, aku dengerin.” Kataku. Dari gerak gerik dan bahasa tubuhnya Maharani hanya perlu sounding
board. Seseorang untuk mendengarkan dan menampung kegelisahan yang mungkin
sudah sekian lama terpendam. Sepertinya tidak memerlukan masukan. Maka aku
memutuskan hanya akan memberi saran dan masukan jika dia bertanya.
Thursday, 26 April 2018
It's all in your head...
Sebuah pesan dari seseorang yang tak dikenal masuk ke web messenger-ku. Seseorang dengan profil fiktif bernama Jerry. Fotonya tak memperlihatkan wajahnya.
"Selamat pagi kak. Saya baru melihat cerita tentang kakak. Saya ingin sekali ngobrol dan bercerita dengan kakak tentang masalah yang membebani saya selama ini. Maaf saya menggunakan akun fiktif ini untuk menghubungi kakak. Ada alasan tertentu kenapa saya melakukan ini dan nanti saya akan jelaskan semua ke kakak. Kalau boleh, saya ingin bertemu langsung dengan kakak. Kapan kakak ada waktu? Anytime saya bisa sesuaikan waktu saya dengan kakak. Ini akan sangat membantu saya. Semoga kakak berkenan mempertimbangkan permintaan saya ini..."
Bentang Asa
Kala itu awal tahun 2007. Anton, Koordinator Lapanganku memanggilku sepulang aku dari rumah sakit. "Rat, nanti bakal ada yang dateng. Cowok sama ceweknya. Cowoknya temen lama gue sih... Pada baru tau status. Cowoknya biar sama gue, ceweknya lu yang handle ya?" dia memberikan briefing kepadaku. Aku mengangguk. "Lu ajak ngobrol lah ceweknya. Dia kena dari cowoknya, jadi agak stress gitu. Ya... lu liat aja nanti deh, pasti lu lebih tau gimana cara nanganinya." Anton menyambung brief-nya. Lagi-lagi aku mengangguk.
Thursday, 19 April 2018
Fighting the Shadows
Ini sudah tahun keduabelas sejak aku didiagnosa positif mengidap HIV. Sudah banyak hal yang terjadi, sudah banyak kawan yang pergi, sudah pula banyak yang memulai hidup baru. Hidup memang terasa berjalan seperti apa adanya saja buatku. Ada suka, ada duka, ada marah, ada canda. Satu hal yang pasti adalah aku sudah sejak lima tahun terakhir mulai sedikit demi sedikit melepaskan kemelekatanku dengan isu HIV/AIDS dan mulai belajar isu yang lain. Bukan karena aku sudah merasa cukup, tapi karena masih banyak kawan-kawan lain yang harus diberi kesempatan untuk belajar. Kalau kata generasi milenial, sudah waktunya untuk move on.
Wednesday, 1 October 2014
HIV, Memangnya Kenapa?
Laki-laki itu duduk bersamaku
di teras luar sebuah kafe, menikmati kopi dan senja yang jatuh di kota yang sibuk ini. Dia sibuk dengan
gadgetnya. Aku juga. Wajahnya serius mengamati layar telepon genggamnya. “Sebentar
ya. Habis ini aku mau kasih lihat sesuatu sama kamu….” Begitu ujarnya tiba-tiba
tanpa mengalihkan pandangan dari layar telepon genggamnya. “Santai aja…”
jawabku. Lalu Agung, laki-laki itu meneruskan kesibukannya dengan gadgetnya. Aku
meneruskan menikmati senja yang berangin.
Subscribe to:
Posts (Atom)





