Sunday, 29 April 2018

Gadis Berkerudung Biru

Gadis muda itu duduk di hadapanku. Perawakannya mungil sehingga terlihat begitu rentan. Bukan. Bukan ringkih. Fisiknya baik-baik saja, tapi jiwanya resah. Namanya Maharani, aku belum lama mengenalnya. Seorang kawan lamaku yang mengenalkan kami ketika piknik ke hutan Mangroove. Maharani adalah seorang guru les yang masih muda. Usianya baru duapuluhan. Dia membetulkan kerudung biru yang dikenakannya. “Bunda, aku mau curhat…” begitu ujarnya pelan. Suaranya memang lembut dan terkesan pemalu. Tapi jika sudah kenal, dia cukup ceriwis juga. “Ya udah… Kamu cerita aja, aku dengerin.” Kataku. Dari gerak gerik dan bahasa tubuhnya Maharani hanya perlu sounding board. Seseorang untuk mendengarkan dan menampung kegelisahan yang mungkin sudah sekian lama terpendam. Sepertinya tidak memerlukan masukan. Maka aku memutuskan hanya akan memberi saran dan masukan jika dia bertanya.

Gadis berkerudung biru itu menghela nafas panjang seolah mengumpulkan kekuatan untuk memulai kisahnya. “Kemarin aku baca tulisan bunda yang isinya bunda cerita tentang status bunda ke sahabat bunda. Aku juga punya pengalaman yang mirip, bun. Bedanya, kalo aku cerita tentang diriku yang homoseksual…” Maharani memulai kisahnya sambil memilin ujung kerudungnya.

Ketika berusia 18 tahun, Maharani memutuskan untuk bercerita kepada teman-teman sekolahnya yang terdekat tentang orientasi seksualnya. Tapi nasibnya tak seberuntung aku. Dia ditinggalkan teman-temannya. Bahkan berita tentang orientasi seksualnya ini menyebar luas hingga teman-teman alumni sekolah yang sama mengetahuinya. Maharani pun dicerca. Dijadikan bahan bullying di grup BBM alumni sekolahnya waktu itu. Tak tahan dengan perlakuan buruk mereka, Maharani memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan mereka hingga detik ini. Dia tidak berteman lagi dengan mereka baik di dunia nyata maupun di dunia maya. “Aku salah nggak memperlakukan mereka seperti ini?” tanyanya kepadaku. Aku menggeleng, “Nggak. Kamu punya hak untuk memilih siapa yang bisa jadi temanmu.” Tandasku. Gadis itu mengangguk kecil lalu meneruskan ceritanya.

Maharani mulai menjalin hubungan dengan seorang perempuan sesama pengajar. Dia tak paham soal LGBT saat itu. Yang dia tahu hanyalah dia merasa nyaman dan bahagia ketika bersama perempuan itu. “Aku nggak paham soal LGBT dan segala macamnya saat itu. Maklum lah, aku dibesarkan di keluarga yang bigot. Aku bodoh. Aku cerita tentang gimana bahagianya aku sama pacarku itu. Ternyata cerita-ceritaku ini sampe juga ke seantero kantor. Hebohlah semua…” sejak cerita itu tersebar, Maharani mulai menerima berbagai macam terror, terutama dari teman-teman kantor yang suka pada pacarnya. “Aku dikatain macam-macam. Perempuan berjilbab tapi lesbian lah. Pelacur lah. Lonte lah. Sampai puncaknya aku diancam akan dilaporkan ke bapak dan ibuku. Akhirnya aku resign, bun….” Ujar Maharani.

“Aku nggak ngerti lesbian itu apa. Asli bun! Yang aku tau ya aku nyaman sama pacarku. Karena kejadian itu akhirnya aku jadi belajar. Banyak baca dan juga tanya sama pasanganku. Tapi dulu dia nggak terlalu banyak menjelaskan apa yang aku pertanyakan juga…” Maharani bertutur pelan. “Apa mungkin karena dia juga nggak tau, atau gimana?” aku bertanya. Gadis itu menggeleng, “Dia sangat tau, bun. Tapi entah ya… mungkin karena pada saat itu aku bodoh, jadi penjelasannya agak ngambang buatku. Aku baru bisa paham benar setelah aku belajar sendiri dari baca-baca melalui internet…” sambung gadis itu. Maharani memperkaya pengetahuannya tentang LGBT dari internet. Istilah-istilah seperti butchy, femme dan yang lain-lain pun diketahuinya dari berbagai sumber di internet. Tapi pacarnya selalu memintanya untuk tidak terlalu terpaku kepada label-label serupa.  

Memasuki tahun ketiga hubungannya, Maharani mendapati pacarnya selingkuh dengan mantan boss tempat dia dulu bekerja. Seorang perempuan juga. Maharani stress berat, tapi cintanya tak luntur. Pacarnya mengatakan bahwa perselingkuhannya dengan perempuan itu hanya untuk kepentingan balas dendam saja karena mereka sebelumnya juga pernah berhubungan. Lalu di tahun yang sama, Maharani kembali mengetahui bahwa pacarnya selingkuh. Kali ini dengan teman kantornya yang notabene juga dulunya teman kantor Maharani. Perempuan yang berselingkuh ini menyatakan bahwa dirinya tak tahu jika Maharani masih berhubungan dengan pacarnya. “Dia kira kami putus waktu aku resign, bun…” Maharani menjelaskan. “Duh, aku kok jadi ngelantur ke mana-mana ya bun? Ya ampun! Maafkan adekmu yang bodoh ini ya, bun… Cuma pengen ngeluarin unek-unek aja sih…” Maharani tertawa rikuh. Aku ikut tertawa, “Nggak apa-apa, Ran. Keluarin aja semua.” Kataku sambil tersenyum. Betul dugaanku, dia hanya butuh sounding board. Diam-diam aku menghitung berapa kali dia sudah mengatai dirinya sendiri "bodoh", dan aku bertanya-tanya sendiri, akan sampai berapa kali lagi dia akan melakukan hal itu terhadap dirinya sendiri?

Maharani akhirnya mendapati bahwa pacarnya sudah selingkuh dengan teman kantornya itu selama dua tahun. Dan dia tidak mau melepaskan pacarnya begitu saja dengan alasan pacar Maharani, sebut saja Reina, dianggap berhutang padanya. Rupanya perempuan itu mencatat semua pengeluaran dari kantongnya ketika sedang berhubungan dengan Reina. Ketika putus, perempuan itu menyodorkan “catatan hutang” Reina selama berhubungan dengannya, jumlahnya hingga belasan juta! “Sebenernya Reina itu secara ekonomi bukan orang susah, tapi saat itu ibunya sakit dan masuk rumah sakit. Gajinya habis untuk bayar biaya pengobatan ibunya, jadi untuk makan atau jajan, perempuan itu yang sering bayarin.” Maharani menjelaskan padaku. “Aku nggak ngerti kok bisa tega gitu sama pacarnya sendiri… karena aku liat catatannya, bun. Itu sampe rinci banget nyatetnya!” Maharani berujar dengan suara tersendat. Tak enak dengan situasi yang dihadapi, Reina pun meminta diri dari Maharani. Meminta waktu dua tahun untuk menyelesaikan urusannya dengan selingkuhannya. Membayar hutang-hutangnya. Maharani menolak, malah dia menawarkan untuk ikut membantu pelunasan hutang-hutang Reina. Tapi Reina ngotot menolak untuk melibatkan Maharani. Dia tetap minta waktu dua tahun. “Aku nggak mau, bun karena aku nggak mau kehilangan dia dan aku takut nantinya dia akan sama orang lain lagi…” ujar Maharani dengan mata berkaca-kaca. Meskipun demikian, Reina mencoba meyakinkan Maharani bahwa dia akan kembali setelah semua urusannya selesai. Dia akan datang untuk mempertanyakan lagi hati Maharani. “Aku bilang, ‘kalau dalam 2 taun itu aku udah nggak cinta gimana?’, dia bilang dia akan terima. Terus aku bilang, ‘kalau dalam waktu 2 taun itu kamu sama orang lain lagi, gimana?’ dia janji nggak akan sama orang lain. Akhirnya aku nurut dan ngasih dia waktu dua taun untuk beresin masalahnya dengan orang itu…” Maharani berkata sambil menghapus ujung matanya yang berair.

“Tapi nggak sampe seminggu, aku pergoki dia dengan orang lain lagi di medsosnya. Aku baca pesan inbox-nya dengan perempuan lain lagi yang masih satu Lembaga dengan dia…. Gila kan? Gimana aku nggak stress?” Maharani berkata sambil menghela nafas panjang. Aku terpekur memandang gadis itu. Sungguh tak adil perlakuannya yang diterimanya. Atas nama kejujuran, rupanya Reina memberikan akses kepada Maharani untuk masuk ke media sosialnya. Namun ini malah menjadi mimpi buruk bagi gadis itu. Selanjutnya, baru satu bulan berselang, Reina sudah datang kembali menemui Maharani. Perempuan itu menangis sambil minta maaf, menyatakan dirinya terkena karma. Kakak perempuannya diselingkuhi suaminya. Maharani galau. Tepat di saat itu juga, keluarganya mulai mencium hubungan mereka. Reina memang tinggal bersama Maharani di salah satu kamar kontrakan milik orang tua Maharani. Bapak dan ibunya pun dekat dengan Reina, bahkan sudah menganggap dia seperti anak sendiri. Orang tua Maharani yang kalut dan kaget karena mencium hubungan mereka akhirnya menyidang Maharani. “Bapak pingsan dan aku hampir diusir dari rumah. Cuma bapak bilangnya bukan karena aku yang lesbian, tapi karena Reina yang lesbian. Mungkin bapak nggak sampai hati bilang kalo anaknya lesbian.” Ujar Maharani dengan mata basah. Maharani pun dilarang berhubungan lagi dengan Reina.

Masalah demi masalah seolah terus datang dan bertumpuk. Reina yang berselingkuh dengan teman kantornya tetap tak mau melepaskan salah satu. Dia mau keduanya. Katanya dia tak bisa lepas dari perempuan itu karena banyak diancam. “Perempuan itu kasar banget. Aku pernah diajak ketemuan buat berantem. Aku juga pernah dimaki-maki, semua isi kebun binatang dikeluarin. Aku sempat ngomong sama Reina, ‘kok orang itu kayak preman pasar gitu?’, tapi akhirnya aku maklum, bun. Mungkin faktor lingkungan sekitarnya dan juga pendidikannya yang bikin dia jadi begitu…” tandas Maharani. “Reina itu nggak cinta sama dia, bun…” Maharani mengucap dengan pandangan menerawang. “Tapi pas dia memutuskan untuk pergi dari aku, mungkin dia butuh seseorang. Nah, ketemulah sama perempuan itu. Dan ternyata perempuan itu melakukan kekerasan sama Reina….” Maharani tak paham kenapa Reina tetap bertahan dengan perempuan itu. Sudah mengalami kekerasan pun dia masih bersama. “Buatku kekerasan itu bukan bentuk cinta. Dan kalau nggak cinta, untuk apa bertahan?” Maharani menunduk.

Untuk sesaat kami terdiam. Maharani mungkin mencoba menyusun kalimat, aku berusaha mencerna sekian banyak informasi yang masuk. Bagiku, bukan hanya Reina yang bertahan dalam hubungan yang tak sehat, tapi Maharani pun tetap mempertahankan Reina meskipun perempuan itu sudah berulang kali mencuranginya. Ah, cinta memang perkara pelik! “Bunda…. Sejak taun 2013, waktu aku pertama kali tau Reina selingkuh, aku mulai ngalami delusi dan halusinasi…” Maharani mulai masuk ke bab lain kisah hidupnya. Gadis itu bercerita, sebenarnya sejak di bangku SMP dia sudah sering punya “teman mengobrol”, hanya saja dia mengira semua itu sesuatu yang wajar dialami oleh remaja. “Tapi sejak Reina selingkuh, teman ngobrolku itu makin beraneka ragam. Bahkan ada yang aku nggak kenal… aku depresi. Nggak punya penyemangat hidup, bun…” ujarnya sedikit tersendat. Maharani tak tahu dia memiliki masalah kejiwaan hingga akhirnya dia berkenalan dengan Diva di sebuah grup untuk orang-orang bipolar. Diva adalah kawan yang mengenalkanku kepada Maharani. “Diva yang nyaranin aku untuk ke psikiater.” Kata gadis itu. “Sebentar, kamu kok bisa masuk grup untuk orang-orang bipolar? Kan tadi katanya kamu nggak tau kalo kamu punya masalah kejiwaan?” aku bertanya dengan rasa penasaran. “Sebelumnya aku baca-baca tentang hal-hal yang berkaitan dengan keinginan untuk bunuh diri, bun. Terus, sampe akhirnya aku nemu artikel tentang bipolar. Aku baca dan aku tertarik. Ini prosesnya sama seperti waktu aku cari tau soal LGBT.” Maharani menjawab pertanyaanku. Aku mengangguk, “Oke… terus gimana? Kamu ke psikiater?” aku bertanya lagi. Gadis itu mengangguk. “Aku didiagnosa mengidap skizofrenia. Tapi habis itu aku pindah, berobat di tempat lain dan aku didiagnosa skizoafektif.” Ujarnya. Aku mengernyitkan dahi. Kesehatan jiwa memang bukan areaku, jadi cukup banyak hal yang tak aku pahami benar. “Bedanya apa?” aku bertanya lagi. “Skizoafektif itu perpaduan antara skizofrenia dengan bipolar, bun.” Jawab gadis itu. Aku baru tahu! Aku memandang gadis mungil di hadapanku. Begitu besar beban dan permasalahan yang harus dipikulnya sendiri. Luar biasa!

“Kamu sampe sekarang masih sama Reina?” aku bertanya pada gadis itu. Maharani mengangguk. “Iya, bun. Cuma nggak jelas gitu deh jadinya. Aku tau dia sama orang lain. Orang itu juga tau Reina cintanya sama aku…” ujarnya setengah mengeluh. “Aku diteror terus sama dia. Diajak berantem.” Kata Maharani sedikit kesal. “Udah pernah ketemuan?” tanyaku lagi. Gadis itu mengangguk. “Udah. Aku pernah terima SMS dari nomernya Reina, ngajak ketemuan. Tapi bahasanya bukan dia. Waktu ketemu ternyata ada perempuan itu dan Reina cuma bilang kalo kita nggak bisa berhubungan lagi. Tapi itu memang permintaan dari perempuan itu…” Maharani berkata sambil mempermainkan ujung kerudungnya. Namun ternyata Reina tetap menghubungi Maharani, bahkan hingga sekarang. Dari setiap pertemuan lah Maharani akhirnya tahu perlakuan buruk yang diterima Reina. Perempuan itu sering menghajar Reina. “Udah parah banget, bun… dijedotin. Dijambak. Ditampar. Dipukul. Terakhir dia lempar puntung rokok yang masih nyala ke dalem bajunya Reina…” Maharani bercerita sambil menangis. “Aku tiap kali ketemu pengen nangis, liat tubuhnya memar-memar, bahkan di mukanya juga…” ujarnya dengan nada getir. Sepengetahuan Maharani, Reina hanya dimanfaatkan secara finansial saja oleh perempuan itu. Kehidupannya saat ini agak morat marit karena kakak perempuannya baru saja meninggal. Keluarganya kelimpahan urusan finansial dan perseteruan dengan suaminya yang notabene berselingkuh darinya. Ditambah lagi prahara antara dirinya dengan perempuan lain itu dan hubungannya dengan Maharani. Sungguh seperti sebuah bola benang kusut raksasa.

“Keluarganya Reina sekarang lagi ribet sama urusan anak-anak almarhumah kakaknya, bun. Tiga orang dibawa bapaknya dan udah nggak sekolah lagi. Katanya homeschooling, tapi entah lah. Aku kok ragu. Aku jadi ikutan bingung mikirinnya….” Ujar gadis itu lagi. “Bunda tau nggak, kakaknya Reina itu meskipun  diselingkuhi suaminya tapi sampai meninggalnya pun dia nggak pernah berhubungan dengan laki-laki lain…” sambungnya. “Kadang aku mikir, apa nasibku bakal kayak kakaknya Reina ya? Saking cintanya sama pasangan, disakiti pun terus bertahan…” ujarnya sedikit mengawang. “Ran, nasibmu ya kamu sendiri yang tentuin. Kamu mau jadi seperti itu apa nggak…” kataku dengan sedikit hati-hati. “Aku penat mikirn jalan keluar untuk masalah keluarganya Reina, bun…” katanya lagi. Aku menarik nafas panjang. Maharani memang aku lihat punya empati yang sangat tinggi. Entah mungkin didorong oleh rasa cintanya yang begitu besar untuk Reina, “Tapi itu kan permasalahan keluarganya Reina, Ran. Bukan masalahmu…” aku mencoba memberikan pandangan. Gadis itu menatapku, “Tapi masalah dia, masalahku juga, bun….” Sanggahnya. Aku tersenyum kecil. “Ini dia Ran… di sini kamu harus berhati-hati. Kamu juga harus bisa kasih batasan loh. Ada hal-hal yang kamu nggak bisa intervensi.” Aku mencoba menjelaskan. “Aku bukannya melarang kamu untuk berempati, tapi kamu juga harus bisa memilah sampai sebatas mana kamu berhak untuk ikut campur…” aku melanjutkan omonganku. Gadis itu masih terdiam, mendengarkanku. “Nggak enak sih memang…. Tapi kalo nggak gitu, kamu sendiri yang pusing. Kamu pun punya probelmatika sendiri ‘kan?” lanjutku. Gadis itu mengangguk dan mulai menangis. Air matanya jatuh di kedua pipinya. Kepalang! Pikirku. Maka aku meneruskan omonganku. “Jangan sampe kamu ngurusin orang lain, tapi dirimu sendiri nggak keurus. Masalahmu sendiri nggak terselesaikan. Rani, kamu all out ngurusin orang lain…. Tapi apakah kamu juga udah memberikan porsi yang sama untuk dirimu sendiri…?” aku berharap kalimatku bisa membangunkannya. Gadis itu masih diam sambil berurai air mata. “Reina bertahan dengan perempuan itu. Kamu bertahan dengan Reina. Apa yang kamu cari sebenarnya, Ran?” tanyaku sedikit menyelidik. “Entah, bun… yang aku tau, aku sayang sama dia. Udah itu aja…” jawabnya di antara air mata yang berurai. Aku tersenyum, “Kamu sayang sama dia tapi kurang sayang sama dirimu sendiri, Ran…” aku berkata dengan penuh keprihatinan. Aku tahu gadis ini berhati emas, tapi dia nyaris lupa memikirkan dirinya sendiri. “Sayangi dirimu dulu sebelum kamu menyayangi orang lain, Ran…” kataku sambil menatap gadis itu. Dia mengangguk kecil.

“Rani, aku cuma mau mengingatkan satu hal lain, kamu jangan terus-terusan ngatain dirimu itu bodoh. Jangan menstigma diri sendiri… nggak baik ah!” ujarku. Gadis itu tersenyum kecil, “Reina juga suka bilang gitu, bun… Aku coba buat berubah ya, bun…” ujarnya sambil mengusap sisa air mata di pipinya. “Bun, makasih ya udah mau meluangkan waktu dengerin ceritaku. Aku lumayan dapat pencerahan…” katanya sambil tersenyum. “Sama-sama, Ran…” aku membalas senyumnya. Gadis itu membetulkan letak kerudung birunya sambil membereskan barang bawaannya, “Ini baru kisah asmara… belum yang tentang pelecehan dan trauma kekerasa yang aku alami. Next time lagi ya, bun…” ujarnya sambil berpamitan. Aku tertegun dan memaksa diriku untuk mengukir sebuah senyum di bibirku. Anytime, Rani….” Jawabku sambil berusaha mencerna apa yang diucapkannya tadi. “Buku” itu ternyata belum selesai aku baca…. Dan sepertinya masih banyak bab lain yang menunggu untuk aku baca. Sampai ketemu lagi, Maharani.

No comments:

Post a Comment