Laki-laki itu duduk di teras
bangsal rumah sakit. Matanya tampak menerawang menatap butiran hujan yang
jatuh. Ada sedikit kesenduan bercampur galau tergores di wajahnya. Suster Lia
mencolek lenganku, “Itu orangnya ya Rat… Sudah diberi tahu kalau Ratri mau
datang kok… Ingat ya Rat, dia belum tahu kalau istrinya juga korban perkosaan…
minta tolong nanti, kalau Ratri memberitahu, agak hati-hati. Sensitif soalnya…”
aku mengangguk sambil mengucapkan terima kasih karena telah diantar sampai ke
bangsal. Suster Lia lalu berbelok masuk ke ruang perawat, sementara aku terus
menuju ke arah laki-laki itu.
“Maaf… Rian ya?” sapaku.
Laki-laki itu menoleh, menatapku sejenak lalu mengangguk. “Iya… teh Ratri ya?”
jawabnya. Aku tersenyum, “Betul… boleh saya duduk di sini?” tanyaku sambil
menunjuk bangku kosong di sebelahnya. Rian mengangguk, “Silakan… Istri saya
lagi tidur, jadi saya duduk di luar sini saja.” ujarnya. Lalu cerita pun
mengalir tanpa tertahan. Rian yang masih muda, masih sepantaranku umurnya,
ternyata seorang kuli panggul di pasar induk. Istrinya, Nurul, umurnya 3 tahun
lebih muda darinya. Nurul adalah seorang TKW yang dikirim ke Arab Saudi. Sudah
sekira 5 tahun Nurul kerja sebagai TKW di sana. Awalnya segala sesuatunya
berjalan dengan lancar. Nurul rajin mengirim uang untuk suaminya di Indonesia.
Meski tidak pernah bertukar kabar karena Nurul tidak diperbolehkan menggunakan
telepon genggam selama bekerja di sana, namun Nurul cukup sering mengirim surat
untuk Rian. Sampai beberapa bulan belakangan ini surat dari Nurul tak kunjung
tiba. Uang kiriman pun jumlahnya jauh berkurang. Rian bukan risau karena jumlah
uang dikirimkan jauh lebih sedikit dibanding sebelumnya, Rian merasa ada
sesuatu yang tak pas. Sesuatu yang tak enak. Surat yang dikirimkannya untuk
Nurul kembali dengan catatan “penerima tak dikenal”. Rian panik, tak tahu harus
bertanya kepada siapa. Dia bahkan tidak tahu PJTKI tempat dulu Nurul
mendaftarkan diri. Hingga pada suatu hari seseorang datang ke rumahnya. Seorang
pekerja LSM yang mengurus isu-isu pekerja migrant. Darinya, Rian mendapat kabar
bahwa Nurul sudah tidak lagi bekerja pada majikannya dan saat itu dalam keadaan
sakit parah. Beberapa organisasi internasional dan nasional telah bekerja sama
dengan KBRI setempat untuk mengupayakan kepulangan Nurul. Rian diberi tahu
bahwa Nurul akan segera dirawat di rumah sakit setempat.
Singkat cerita, Nurul kembali dalam keadaan kurang baik. Rian sangat terkejut melihat keadaan istrinya. Surat rujukan dari rumah sakit di Saudi Arabia telah sampai ke tangan dokter lokal. Dokter di rumah sakit setempat yang menangani kasus Nurul tidak punya pilihan lain selain memberi tahu Rian tentang kondisi istrinya. Nurul ternyata mengidap HIV dan sudah masuk fase AIDS. “Saya itu tidak sekolah tinggi, teh… saya kurang paham tentang kondisi istri saya. HIV itu apa? Kenapa istri saya bisa kena?” ujar laki-laki itu dengan suara mengawang. Aku memutar otak untuk mencari penjelasan yang paling sederhana agar mudah dicerna, “HIV itu nama sebuah virus yang masuk ke tubuh dan menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Jadi para pengidap HIV biasanya sedikit lebih mudah terjangkit penyakit daripada orang-orang kebanyakan.” Jelasku. Rian mengangguk-angguk kecil. “Menularnya bagaimana teh?” tanyanya lagi. Ah… mulai masuk ke bagian yang sensitif buatku… “Penularannya ada beberapa cara. Bisa melalui penggunaan jarum suntik bersama untuk pengguna narkoba. Bisa melalui hubungan intim yang tidak pakai kondom. Bisa juga menular dari ibu ke anak….” Lanjutku. Rian menoleh, “Nurul tidak nyuntik teh… dia takut jarum suntik… itu bisa dipastikan. Kalau dari hubungan intim, selama ini kan dia di Arab, saya di sini. Sudah 5 tahun pisah tinggal….” Kalimatnya menggantung. Dan saatnya pun tiba… the moment of truth… aku mengatur nafas sambil berpikir cepat, “Rian… ada sesuatu yang memang belum sempat diberitahukan kepada kamu. Tentang Nurul. Ini akan berat, tapi kamu sebagai suaminya berhak tahu. Sebelum sakit, sekira beberapa tahun yang lalu, Nurul sempat mengalami pelecehan seksual…” kali ini giliranku yang menggantung kalimat. Aku mengamati reaksi di wajah Rian. Lelaki itu terlihat tercekat, menoleh padaku dan menatapku dengan mata berkaca-kaca, “Maksud teteh, Nurul itu…. Diperkosa….?” Suaranya nyaris hilang. Aku memegang bahunya sambil mengangguk kecil dengan wajah getir. Lalu tangis pun pecah dari lelaki itu. Dia menutup wajahnya. Tangis tanpa suara. Hanya ada air mata dan bahu yang terguncang. Aku mengusap punggungnya, mencoba memberi dukungan dan empati. “Ya Allah… pantas saja surat-suratnya semakin hari semakin pendek, teh….” Ujar lelaki itu di sela sedu sedannya. Aku mengeluarkan sebungkus kecil tisu dan memberikannya kepada Rian.
Aku membiarkan laki-laki itu
menenangkan diri sejenak. Sebenarnya aku
sedikit bingung menghadapi situasi saat itu. Agak canggung. Aku tidak tahu
harus berbuat atau berkata apa. Menangani pasangan laki-laki dari ODHA
perempuan kadang bukan hal mudah bagiku. “Nurul diperkosa….” Tiba-tiba Rian
berucap lirih, menghentikan kesibukanku berpikir. Laki-laki itu menoleh
kepadaku dengan pandangan tidak mengerti, “Tapi kalau memang Nurul diperkosa,
kenapa kemudian surat-surat yang saya kirim dikembalikan dengan catatan alamat
tidak dikenal ya teh? Aneh…” begitu katanya. Aku diam sejenak, “Saat itu Nurul
kabur dari rumah majikannya. Lalu ditampung oleh salah satu temannya. Jadi,
ketika suratmu tiba di rumah majikannya, mereka memberitahu petugas pos nya
bahwa tidak ada nama Nurul di rumah itu…” jelasku. Rian menangguk-angguk kecil,
“Oooh… itu juga mungkin sebabnya kenapa uang kirimannya lalu menghilang ya teh?
Nurul tidak punya penghasilan lagi…” sambung Rian seperti bicara dengan dirinya
sendiri. Aku hanya mengangguk.
Kami berdua terdiam. Gerimis
kembali turun. Laki-laki itu duduk sambil memandangi rinai yang turun. Aku memutar
otak, menganalisa apakah waktunya sudah tepat atau belum… informasi harus
disampaikan. Tapi aku ragu karena melihat wajah Rian yang begitu murung dan
sendu. “Lalu, saya harus bagaimana ya teh?” tiba-tiba Rian bertanya, dan aku
serasa diberi celah. Inilah saatnya! Begitu pikirku. “Tidak banyak yang harus
berubah. Yang terpenting adalah dukungan dari Rian sebagai pasangan untuk
Nurul. Itu yang paling dibutuhkannya sekarang.” Kataku. “Tidak perlu
menceritakan kondisinya kepada siapapun, terutama soal status HIV nya.” Lanjutku.
“Memangnya kenapa teh?” Tanya Rian dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. Aku tersenyum,
“Masih banyak yang kurang paham tentang virus yang satu ini. Kita harus jaga
supaya Nurul tidak dikucilkan.” Jelasku. “Kecuali nanti jika Nurul sudah siap
untuk membuka statusnya. Itu hak Nurul ya, Rian. Kita tidak boleh membuka
statusnya jika dia tidak mau.” Aku mencoba menekankan prinsip konfidensialitas.
Rian mengangguk kecil.
Aku menarik nafas sejenak,
sebelum masuk ke bagian yang terpenting. “Hasil tes HIV kamu kemarin negatif kan?” tanyaku, disambut dengan anggukan dari
Rian. “Nah, 3 bulan ke depan, kamu harus tes ulang untuk memastikan ya?” Rian
lagi-lagi mengangguk. “Seterusnya, setiap kali berhubungan suami-istri, harus
menggunakan kondom…” aku melanjutkan penjelasanku. “Kenapa teh? Nurul kan istri
sah saya…” Rian berkilah. Aku tersenyum. “Betul. Tapi kita kan ingin menjaga
supaya Rian tetap negatif. Tidak tertular Nurul…” ujarku hati-hati. Rian
mengangkat kepalanya lalu menatapku. Aku melihat sorot matanya sedikit lebih
berbinar dari sebelumnya. “Teh, saya itu cinta…. sekali sama Nurul. Sekarang pun,
setelah kejadian itu dan setelah kondisinya berubah, cinta saya kepada Nurul
tidak berubah… buat saya, Nurul ya tetap lah Nurul. Cuma sekarang dia punya
virus. Itu saja bedanya.” Rian berujar. “Itu
bagus, Rian…. Tapi….” Aku berniat untuk meyakinkan laki-laki itu tentang
pentingnya penggunaan kondom. “Tidak teh…. Saya dan Nurul itu sehidup semati.
Mungkin klise kedengarannya, tapi itu betul! Saya cinta dia apa adanya. Saya terima
dia apa adanya dengan segala kekurangannya, termasuk keadaannya sekarang ini.”
Rian melanjutkan sambil menggeleng kecil. Aku tercekat. Ada jengah. Ada kagum. Ada
khawatir. “Tapi bagaimana jika kamu nanti tertular?” tanyaku hati-hati. Rian
tertawa kecil, “Ah teteh…. Ya biar saja. Tertular istri sendiri, saya rela teh.
Kalau memang harus tertular ya sudah. Mau apa lagi. Cinta itu kan tidak kenal
status, teh….” Ujarnya lagi sambil tersenyum. Aku masih sedikit tercekat. Haru,
karena baru kali ini ada yang berkata seperti itu. Aku tidak tahu, apakah aku
harus sedih atau senang. Sedih karena kemungkinan akan ada satu lagi pengidap
HIV. Senang karena ternyata masih ada ketulusan…
Cinta tidak kenal status…. Begitu
katanya tadi. Kalimat itu terus terngiang di telingaku di sepanjang perjalanan
pulang dari rumah sakit. Ah, betapa manisnya… andai saja semua orang bisa berpikir
seperti itu…. Betapa indah dan damainya dunia ini.

No comments:
Post a Comment