Thursday, 20 September 2018

Catatan Seorang Anarko

Beberapa tahun yang lalu aku berkenalan dengan seorang laki-laki muda. Andreas namanya. Perkenalan kami memang tak sengaja, kala itu kami sama-sama suka berselancar di Twitter dan seringkali saling berbalas cuitan. Andreas selalu mencuitkan hal-hal yang cukup keras, kritis, frontal, politis tapi pada saat yang sama, santai dan kocak. Kata-katanya tajam dan cukup menohok. Aku cukup suka dengan gayanya yang berani namun santai. Belakangan aku juga tahu Andreas banyak menyuarakan dukungannya atas keadilan gender dan kesetaraan hak kawan-kawan LGBT, pecandu dan ODHA. Bahkan dia cukup keras menyuarakan hal-hal tersebut.

Kami, sebagian dari warga TwitterLand di Jakarta dan sekitarnya punya kebiasaan untuk bertemu dan berkenalan secara off air, agar kami punya gambaran tentang mereka yang ada di balik setiap nama pengguna Twitter. Kebiasaan ini berjalan untuk waktu yang cukup lama dan semua yang terlibat di dalamnya selalu terlihat sangat menikmati pertemuan di dunia nyata. It's always nice to put a face on the name. 

Setelah kali kedua aku bertemu muka dengan Andreas, aku memberanikan diri untuk bertanya tentang beberapa hal padanya. Sebagai sosok anak muda, aku menganggap Andreas cukup luas wawasannya. Dan di dunia yang penuh dengan ke-4l4y-an, Andreas adalah salah satu sosok riil yang cukup idealis di mataku. Penampilannya tidak berlebihan. Tidak kelewat slengean, tidak pula kelwat rapi. Tidak berantakan, tapi jauh dari kesan necis. Dia mengklaim dirinya sebagai seorang anarko. Penganut paham anarkisme. Sebuah istilah yang selalu menggelitik ruang pikiranku. Untuk itulah aku mencoba menggali lebih dalam lagi, apa sih definisi anarki yang sebenarnya?

"Anarchy doesn't mean chaos." ujar laki-laki itu ketika pertama kali menjawab pertanyaanku. "Coba kamu jelaskan padaku, konsep atau definisi anarki yang kamu tahu itu apa?" laki-laki itu balik bertanya padaku. Aku diam sejenak, mencoba merangkai kata. "Tindakan yang merusak dan merugikan. Setiap kali ada aksi atau demonstrasi yang berujung ricuh, media massa selalu mengatakan 'telah terjadi tindakan anarkis'. Itu yang aku tahu..." jawabku, disambut gelak tawa Andreas. "Ah, klise! Itu pemahaman yang salah soal anarki, anarkis atau anarkisme, Rat!" sambungnya. "Seperti yang aku sebutkan tadi, anarchy doesn't mean chaos. Tapi kalau mau dicermati, chaos is also order." ujarnya lagi. Aku menatapnya dengan pandangan bingung. "Kekacauan adalah sebuah keteraturan. The order of chaos." lanjutnya, membuatku semakin bingung.

"Menurut Theory of Chaos, ada perubahan yang bisa saja terlihat kacau, dan bahkan bisa saja kita pun mengalaminya sebagai sebuah kekacauan. Tapi sistem yang lebih besar justru ditentukan secara menyeluruh, dan tidak ada itu, istilah random, meskipun terlihatnya random." Andreas mencoba menjelaskan. "Dengan kata lain, kita dipersiapkan untuk menghadapi dan beradaptasi dengan perubahan. Hasil akhirnya akan berada dalam parameter sistem yang ada, tapi tetap tidak bisa diprediksi. Setidaknya, kita tidak akan pernah bisa memprediksi hasil akhirnya. Itulah kenapa disebut sebagai 'kekacauan', karena tidak ada prediksi yang bisa melahirkan keteraturan." tandasnya. Aku masih ternganga. Sungguh banyak sekali informasi baru yang masuk dan harus aku cerna dalam waktu yang begitu singkat. Dan aku kesal melihat bagaimana laki-laki muda itu bisa menjelaskan dengan santai. So effortlessly! 

"Mari kembali ke definisi anarki sederhana yang tadi aku bilang. Anarchy doesn't mean chaos. Kenapa? Asal kata Anarki itu dari bahasa Yunani, artinya tanpa paksaan, tanpa kekerasan atau tanpa pemerintahan. Pemerintahan dianggap sebagai akar dari kekerasan, pembatasan dan paksaan. Sementara kekerasan, pembatasan dan paksaan adalah akar dari kekacauan. Karena itu, anarki sejatinya bukanlah kekacauan atau ketidakteraturan. Kata anarki sendiri sudah menegasi otoritas pemerintahan. Jadi pada dasarnya siapapun yang menentang aksi-aksi intervensi pemerintah adalah seorang anarko. Mereka yang menolak dominasi adalah anarko. Bingung ya?" Andreas menyudahi penjelasannya sambil tertawa kecil. Mungkin karena melihat raut wajahku yang penuh tanda tanya.

"Jadi kalau aksi-aksi perusakan itu bukan tindakan anarkis, lalu apa namanya?" tanyaku. "Vandalisme!" Andreas menjawab cepat. "Vandalisme adalah tindakan perusakan. Singkatnya begitu." Aku manggut-manggut, baru paham. "Yaaa adakalanya anarko juga melakukan tindakan vandal. Sejatinya anarko itu tidak suka ribut. Tapi kalau diprovokasi, ya kami bisa saja melawan, untuk mempertahankan diri. Sederhana saja prinsipnya." ujar Andreas lagi. Ya, semua orang kalau diprovokasi tentu akan melawan. Minimal untuk membela dan mempertahankan diri. Mungkin dari situlah tindakan vandal kemudian terjadi. Aku membatin sendiri. "Yang aku rasa penting untuk kamu catat dan ketahui soal anarki, anarkisme atau anarko adalah bahwa kami ini bukan pecinta kerusuhan. Kolektif kami punya aturan, tapi bukan seperti aturan pemerintah. Ini aturan kami sendiri. Dan aturan kami itu cukup ketat juga, tapi kami lebih suka menyebutnya sebagai prinsip kesopanan daripada memakai istilah 'aturan'. Beberapa prinsip kesopanan dasar untuk anarko adalah kami tidak boleh fasis, tidak boleh rasis, tidak boleh seksis, tidak boleh melakukan pelecehan, harus menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan dalam aspek apapun. Seorang anarko itu haruslah feminis, meskipun seorang feminis belum tentu juga seorang anarko. Idealnya sebuah kelompok anarki harus bisa mandiri, tidak tergantung kapitalisme. Atau senantiasa mengurangi ketergantungan terhadap kapitalisme. Be self-sufficient. Tidak suka dengan prinsip copyright karena segala sesuatu yang ada dalam kolektif kami adalah milik bersama, diusahakan bersama, untuk semua orang, harus dirawat dan dijaga bersama pula. Contoh idealnya, tanam apa yang kamu mau makan. Buat apa yang kamu perlukan. Kalau perlu, transaksi jual-beli bisa diganti dengan barter dengan kolektif atau kelompok lain." ujar Andreas sambil mematikan rokoknya. Aku sungguh tertarik dengan prinsip kesopanan kolektif mereka dan ingin tahu lebih banyak lagi.

"Kalau misalnya ada anggota yang melakukan pelecehan, bagaimana?" tanyaku penuh rasa ingin tahu. "Wah! Kelar hidupnya! Hahahaha.... bisa kena sidang. Yaaa ada tahapannya juga sih. Ditegur dulu secara baik-baik, kecuali kalau korbannya meminta lain. Kalau sudah berkali-kali ditegur tapi masih begitu juga, bisa digelarkan sidang. Lalu mungkin saja dikeluarkan dari kolektif. Intinya, kami ingin semua orang nyaman menjadi dirinya sendiri tapi juga tidak mengganggu kenyamanan orang lain. Tidak usah aneh-aneh dan neko-neko. Kami ini seperti a bunch of misfits who get together. Tapi harus ada sopan santun juga lah! Tidak boleh merugikan orang lain, apalagi sesama anggota kolektif." Andreas menjawab sambil menyeruput kopinya. Aku termenung sejenak. Sungguh, sebuah pengetahuan baru bagiku. Aku selalu melihat bagaimana orang-orang menuding atau melabeli sebuah aksi sebagai tindakan anarkis ketika terjadi kericuhan. Aku tak pernah banyak tahu soal apa itu anarki, anarkisme dan anarko. Andreas telah membuka pikiranku dan memberiku warna baru tentang hal ini. "Jadi anak-anak anarko ini sukanya apa?" tanyaku lagi. Andreas menyalakan rokok yang terselip di bibirnya, lalu menghembuskan asapnya pelan-pelan, "Kami suka diskusi, berdebat. Suka mengekspresikan diri lewat berbagai hal seperti seni juga lho! Ada yang suka menulis, menggambar, fotografi, menyanyi. Kami juga harus oto-kritik dan tidak anti-kritik. Itulah kenapa kami juga suka sekali melemparkan kritik. Dan kalau kami mengkritik, kami tidak pandang bulu. Jangan mentang-mentang satu kubu dengan kami lalu kamu anggap dirimu akan bebas kritik.  Atau sebaliknya, ketika kubu lawan melakukan sesuatu yang baik, kami juga tak segan memuji. Tidak hanya karena itu kubu yang berseberangan dengan kami lalu kami tak mau akui prestasinya. Tidak begitu." ujarnya sambil tertawa kecil. Jadi rupanya para anarko ini adalah sekelompok orang yang selalu mengusahakan untuk menerapkan cara berpikir yang objektif dan fair. "Benar ya benar. Salah ya salah. Siapapun itu." tandas Andreas.

"Tadi kamu bilang anarki itu tidak tunduk kepada pemerintahan, tapi kalian juga punya aturan dan sidang segala. Apa bedanya dengan pemerintahan?" aku mencoba memuaskan rasa ingin tahuku. Andreas berdehem kecil, "Kami punya semacam collective leadership, bukan pemerintahan. Segala sesuatu diputuskan bersama, atas dasar kesepakatan bersama. Di dalam kolektif kami tidak ada istilah 'ketua', 'komandan' atau sebangsanya. Semua orang adalah leader. Paling tidak, leader untuk dirinya sendiri. Untuk bisa menjadi seorang anarko sejati, kamu perlu level manajemen diri yang cukup tinggi. Dan ini tidak gampang lho! Secara naluriah memang kami biasanya berkonsultasi dengan beberapa orang yang kami anggap lebih bijak, lebih berpengetahuan atau lebih bisa berpikir secara adil dan konstruktif. Tapi ini adalah bentuk kesadaran komunal di kolektif kami. Orang-orang itu tidak dipilih, ditunjuk atau diangkat. Mengalir begitu saja berdasarkan pengalaman kebersamaan kami. Tidak ada senioritas, tidak ada hirarki. Semua berjalan sesuai kapasitas dan keahlian masing-masing saja. Setelah sekian lama bergaul bersama, kami jadi bisa menilai sendiri... Oooh, kalau urusan hukum, bisa tanya si A. Konsultasi urusan kesehatan bisa dengan si B. Yang enak buat dijadikan tempat curhat itu si C. Dan seterusnya. Tidak ada paksaan juga dalam menjalaninya." ujar Andreas lagi. "Curhat??? Serius kamu???" aku menyambar sambil sedikit geli. Andreas tergelak, "Oh iya dooong! Anarko kalau kangen juga galau kok! Memangnya cuma kamu yang begitu? Huuuu!" jawabnya sambil menoyor kepalaku. Tawa kami pun berderai memecah malam.

"Kapan-kapan mainlah ke kolektif kami.... Nanti aku kenalkan dengan teman-teman yang lain." Andreas melemparkan sebuah undangan sambil berdiri, mengajakku bersalaman. Pertanda dirinya sudah akan pamit pulang. Waktu juga sudah menunjukkan pukul empat pagi kala itu. Mungkin memang sebaiknya semua segera pulang.

Setiap orang adalah guru bagiku. Ibuku selalu berpendapat bahwa kita harus bisa mengambil ilmu dari setiap orang dan pertemanan. Apapun itu dan dengan siapapun itu. Dan itulah yang selama ini aku terapkan. Mengambil ilmu dari setiap orang yang aku temui. Dalam waktu beberapa jam saja Andreas telah bisa memberiku perspektif baru tentang anarki, anarkisme dan anarko. Perspektif yang jauh dari kesan rusuh, ricuh dan menakutkan seperti yang selama ini selalu aku dengar. 





No comments:

Post a Comment