Thursday, 26 April 2018

Bentang Asa



Kala itu awal tahun 2007. Anton, Koordinator Lapanganku memanggilku sepulang aku dari rumah sakit. "Rat, nanti bakal ada yang dateng. Cowok sama ceweknya. Cowoknya temen lama gue sih... Pada baru tau status. Cowoknya biar sama gue, ceweknya lu yang handle ya?" dia memberikan briefing kepadaku. Aku mengangguk. "Lu ajak ngobrol lah ceweknya. Dia kena dari cowoknya, jadi agak stress gitu. Ya... lu liat aja nanti deh, pasti lu lebih tau gimana cara nanganinya." Anton menyambung brief-nya. Lagi-lagi aku mengangguk. 

Wednesday, 25 April 2018

Jangan Takut, Abang...

Aku mengenal sosoknya pertama kali sekira enam tahun yang lalu. Semua orang memanggilnya "abang". Bukan saja karena dia termasuk salah satu yang tertua di kelompoknya, tapi juga karena asalnya dari Sumatera. Orangnya ramah, ganteng, gagah dan pembawaannya tenang. Waktu itu aku belum lama tinggal di Jakarta, dan sahabatku sering mengenalkanku ke teman-temannya supaya lingkaran pertemananku juga bertambah. Lalu dia mengenalkanku ke sekelompok teman gay-nya. Satu kelompok rumpi yang selalu riuh rendah jika bertemu. Abang adalah salah satu dari mereka.

Monday, 23 April 2018

Never Say Goodbye!


Medio 2016 telepon genggamku berdering. Ardian. Aku tersenyum kecil, sebab sudah lama sekali kami tidak saling berkomunikasi. Hanya sesekali berbalas komentar di media sosial atau chat. "Haloooo!" sapaku ketika menjawab panggilan masuk darinya. "Sist, kumaha kabar maneh?" kata laki-laki di ujung sana dalam bahasa Sunda. Aku tertawa, "Baik... Maneh kamana wae siiih? Sibuk pisan nyak?" aku membalas. Ardian tertawa, "Iya euy. Gue susah banget mau ambil cuti. Maklum lah, kacung kampret. Banyak dikasih tugas sama boss. Disuruh ngerjain ini-itu, ke sana kemari." cerocosnya seperti biasa. "Gileeeee! Gaji lu dua kali GBK yak gedenya? Hahahaha" aku berseloroh, dia pun ikut tergelak.

Thursday, 19 April 2018

Fighting the Shadows

Ini sudah tahun keduabelas sejak aku didiagnosa positif mengidap HIV. Sudah banyak hal yang terjadi, sudah banyak kawan yang pergi, sudah pula banyak yang memulai hidup baru. Hidup memang terasa berjalan seperti apa adanya saja buatku. Ada suka, ada duka, ada marah, ada canda. Satu hal yang pasti adalah aku sudah sejak lima tahun terakhir mulai sedikit demi sedikit melepaskan kemelekatanku dengan isu HIV/AIDS dan mulai belajar isu yang lain. Bukan karena aku sudah merasa cukup, tapi karena masih banyak kawan-kawan lain yang harus diberi kesempatan untuk belajar. Kalau kata generasi milenial, sudah waktunya untuk move on.

Tuesday, 12 January 2016

41/10

Photographed by Dian Suminar 

11 Januari 1975 - 2016
Senin kemarin adalah hari di mana aku melewati tahun pertama usia 40-an. I was turning 41! Tapi umur hanyalah angka bagiku. Aku selalu berkata "I am a 21 year old woman trapped in a 40-ish year old body!" Semangatku untuk belajar, bertualang dan bersuka ria masih sama dengan ketika aku baru saja menginjak usia 21 tahun. 

Wednesday, 2 December 2015

Everything Is Gonna Be Just Fine...

Sembilan tahun telah berlalu. Aku tidak pernah tahu kapan sebenarnya aku mulai terinfeksi HIV. Yang aku tahu hanyalah kali pertama aku diberitahu bahwa hasil tesku positif. Sembilan tahun yang lalu. Tepatnya pada 15 Mei 2006 di sebuah rumah sakit di Bandung. 

Wednesday, 19 August 2015

Di Bawah Matahari Bali

Kana mengamati butiran pasir yang terselip di sela jari kakinya. Pasir itu terasa hangat. Baru pukul empat sore lebih sedikit, matahari belum turun di pantai ini. Kana menikmati sinarnya yang hangat, ia tak peduli teriknya akan menghitamkan kulit. Liburan. Begitulah yang ada dalam pikirannya saat itu. Tiba-tiba Kana merasakan jemarinya digenggam. Damar. Kana tersenyum dalam hati. Akhirnya ia bisa juga berjalan menyusuri pasir pantai Kuta bersama laki-laki itu. Tak banyak yang diinginkannya, hanya menikmati matahari yang tenggelam dan langit senja yang indah di pantai bersama Damar. Pantai mana pun, Kana tak peduli, asalkan bersama Damar.

Thursday, 9 July 2015

Seleb ODHA Dari Pantura

Siang hari di daerah Subang Pantura bukanlah saat paling menyenangkan. Aku dan Wawan mengendarai motor menyusuri jalur Pantura yang ramai di bawah terik sorot matahari. Kami berlomba cepat bukan dengan mobil-mobil kecil, tapi dengan truk-truk kontener, thronton, truk gandeng dan sebangsanya. Setiap hari adalah uji nyali bagiku. Namun siang kali ini berbeda dengan siang hari-hari sebelumnya. Hari ini Wawan akan mengantarku ikut bergabung dalam pertemuan Kelompok Dukungan Sebaya setempat. "Dulu, aku pernah punya klien dampingan dari Subang juga. Namanya Eni dan Amin. Udah lama sekali aku nggak ketemu mereka, Wan..." aku berujar kepada Wawan ketika sedang makan malam sebelumnya. Wawan segera menghentikan kegiatan makannya, "Eni dan Amin, mbak?" tanyanya mengulang dua nama yang aku sebutkan. Aku menatapnya, "Iya, Wan. Eni dan Amin." aku mengulang lagi dengan setengah geli.

Monday, 1 June 2015

Ini Bukan Stigma...

Aku menatap kalender yang tertera pada layar ponselku. Sudah berapa lamakah? Bertahun-tahun... Ya, sudah lewat dari lima tahun setidaknya, namun ternyata masih saja ada lontaran kalimat-kalimat yang membuat bulu kudukku berdiri. "Ini bukan stigma..." begitu ujarnya. Aku hanya diam. Jika ini bukan stigma, lalu apa? - aku membatin sendiri. Bertahun-tahun aku mencari jawabannya, namun tak kunjung aku temui.


Tuesday, 10 February 2015

Aku Panggil Dia Alyssa

Cuaca sore hari di Pulau Bintan sangat cerah. Langit biru, angin sejuk dan matahari bersinar. Aku mengendarai motor bersama dengan 2 orang Manajer Kasus dan 2 orang Buddies dari sebuah LSM di Tanjung Pinang. Tujuan kami adalah ke Gunung Kijang. Home visit. "Ada seorang perempuan muda yang positif di salah satu panti jompo di sana mbak. Dia diisolasi karena pengobatan TB-nya belum tuntas. Sedikit lagi kok..." begitu Lia, Manajer Kasus, memberikan informasi kemarin. "Dia itu agak terbelakang, tapi tidak parah. Tuna wicara tapi bisa berkomunikasi. Tingkahnya seperti anak kecil yang jauh di bawah umurnya." sambung Lia. Aku tak sabar untuk menemui gadis ini.