Wednesday, 19 August 2015

Di Bawah Matahari Bali

Kana mengamati butiran pasir yang terselip di sela jari kakinya. Pasir itu terasa hangat. Baru pukul empat sore lebih sedikit, matahari belum turun di pantai ini. Kana menikmati sinarnya yang hangat, ia tak peduli teriknya akan menghitamkan kulit. Liburan. Begitulah yang ada dalam pikirannya saat itu. Tiba-tiba Kana merasakan jemarinya digenggam. Damar. Kana tersenyum dalam hati. Akhirnya ia bisa juga berjalan menyusuri pasir pantai Kuta bersama laki-laki itu. Tak banyak yang diinginkannya, hanya menikmati matahari yang tenggelam dan langit senja yang indah di pantai bersama Damar. Pantai mana pun, Kana tak peduli, asalkan bersama Damar.

Thursday, 9 July 2015

Seleb ODHA Dari Pantura

Siang hari di daerah Subang Pantura bukanlah saat paling menyenangkan. Aku dan Wawan mengendarai motor menyusuri jalur Pantura yang ramai di bawah terik sorot matahari. Kami berlomba cepat bukan dengan mobil-mobil kecil, tapi dengan truk-truk kontener, thronton, truk gandeng dan sebangsanya. Setiap hari adalah uji nyali bagiku. Namun siang kali ini berbeda dengan siang hari-hari sebelumnya. Hari ini Wawan akan mengantarku ikut bergabung dalam pertemuan Kelompok Dukungan Sebaya setempat. "Dulu, aku pernah punya klien dampingan dari Subang juga. Namanya Eni dan Amin. Udah lama sekali aku nggak ketemu mereka, Wan..." aku berujar kepada Wawan ketika sedang makan malam sebelumnya. Wawan segera menghentikan kegiatan makannya, "Eni dan Amin, mbak?" tanyanya mengulang dua nama yang aku sebutkan. Aku menatapnya, "Iya, Wan. Eni dan Amin." aku mengulang lagi dengan setengah geli.

Monday, 1 June 2015

Ini Bukan Stigma...

Aku menatap kalender yang tertera pada layar ponselku. Sudah berapa lamakah? Bertahun-tahun... Ya, sudah lewat dari lima tahun setidaknya, namun ternyata masih saja ada lontaran kalimat-kalimat yang membuat bulu kudukku berdiri. "Ini bukan stigma..." begitu ujarnya. Aku hanya diam. Jika ini bukan stigma, lalu apa? - aku membatin sendiri. Bertahun-tahun aku mencari jawabannya, namun tak kunjung aku temui.


Tuesday, 10 February 2015

Aku Panggil Dia Alyssa

Cuaca sore hari di Pulau Bintan sangat cerah. Langit biru, angin sejuk dan matahari bersinar. Aku mengendarai motor bersama dengan 2 orang Manajer Kasus dan 2 orang Buddies dari sebuah LSM di Tanjung Pinang. Tujuan kami adalah ke Gunung Kijang. Home visit. "Ada seorang perempuan muda yang positif di salah satu panti jompo di sana mbak. Dia diisolasi karena pengobatan TB-nya belum tuntas. Sedikit lagi kok..." begitu Lia, Manajer Kasus, memberikan informasi kemarin. "Dia itu agak terbelakang, tapi tidak parah. Tuna wicara tapi bisa berkomunikasi. Tingkahnya seperti anak kecil yang jauh di bawah umurnya." sambung Lia. Aku tak sabar untuk menemui gadis ini.

Friday, 3 October 2014

Di Mana Kamu, Amanda....?




Sore itu aku berjanji untuk bertemu dengan salah seorang teman lamaku. Kami sama-sama tinggal di Jakarta, tapi sama sekali belum pernah bertemu. Rupanya tidak sengaja dia melihat foto dan interview-ku di sebuah majalah, lalu dia mencari tahu nomor teleponku melalui redaksi majalah tersebut. Setelah sekian kali janjian dan batal, kami akhirnya bisa menemukan hari dan waktu yang disepakati bersama. Sebuah kedai kopi di daerah Mega Kuningan menjadi tempat pertemuan kami.

Wednesday, 1 October 2014

Sang Jagoan

Malam itu Jakarta cerah, tak hujan tapi angin cukup membawa rasa sejuk. Aku duduk di bangku sebuah taman di pusat kota bersama seorang kawan. Nama aslinya Rahadian, tapi dia lebih dikenal dengan panggilan "Bosang". Katanya, Bosang itu singkatan dari "bocah sangar". Wajahnya memang agak sangar, menurutku. Tapi hatinya baik dan dia adalah teman nongkrong yang sangat menyenangkan. Aku bisa menghabiskan waktu seharian dengannya hanya untuk kongkow dan mendengarkan cerita-ceritanya. Bosang selalu punya cerita yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Selain itu, Bosang juga teman yang baik. Dia selalu menjagaku dari gangguan laki-laki iseng atau preman jalanan (maklum lah, kami lebih sering nongkrong di taman dan di pinggir jalan daripada di kafe atau mall). Perawakannya yang tinggi besar dengan badan dipenuhi tattoo membuat dia memang terkesan sangar. Apalagi jika tidak kenal. Bosang sering bercerita bagaimana tattoo-nya itu membuat orang menghindarinya ketika bertemu di jalan. "Orang tuh kalo liat tattoo di tangan gue ini, udah langsung males aja ngelewatin gue kalo lagi di jalan, Rat. Pada minggir semua. Lu doang yang berani begajulan nabrak-nabrak gue seenaknya, tau!" begitu katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

HIV, Memangnya Kenapa?



Laki-laki itu duduk bersamaku di teras luar sebuah kafe, menikmati kopi dan senja yang jatuh di kota yang sibuk ini. Dia sibuk dengan gadgetnya. Aku juga. Wajahnya serius mengamati layar telepon genggamnya. “Sebentar ya. Habis ini aku mau kasih lihat sesuatu sama kamu….” Begitu ujarnya tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari layar telepon genggamnya. “Santai aja…” jawabku. Lalu Agung, laki-laki itu meneruskan kesibukannya dengan gadgetnya. Aku meneruskan menikmati senja yang berangin.

Tuesday, 30 September 2014

Cinta Tak Kenal Status


Laki-laki itu duduk di teras bangsal rumah sakit. Matanya tampak menerawang menatap butiran hujan yang jatuh. Ada sedikit kesenduan bercampur galau tergores di wajahnya. Suster Lia mencolek lenganku, “Itu orangnya ya Rat… Sudah diberi tahu kalau Ratri mau datang kok… Ingat ya Rat, dia belum tahu kalau istrinya juga korban perkosaan… minta tolong nanti, kalau Ratri memberitahu, agak hati-hati. Sensitif soalnya…” aku mengangguk sambil mengucapkan terima kasih karena telah diantar sampai ke bangsal. Suster Lia lalu berbelok masuk ke ruang perawat, sementara aku terus menuju ke arah laki-laki itu.

Wednesday, 25 September 2013

Salah Siapa?

Sore itu cerah sekali. Aku melangkah cepat-cepat di sepanjang lorong rumah sakit itu. Nyaris berlari. Ini malam Minggu dan aku yang sudah setengah jalan untuk pergi berkencan terpaksa harus putar haluan dan menuju rumah sakit. Ada pasien yang koma. Seorang siswa sekolah menengah atas, bintang basket dan masih salah satu kerabat jauh dari sebuah keluarga terpandang di Bandung. Bukan kombinasi yang baik. Aku sudah mencium hawa konflik sesaat setelah menerima panggilan di telepon genggamku, “Ada dampingan baru untuk kamu, Rat… tapi dia sudah dalam keadaan koma sekarang. AIDS dementia. Bisa ke rumah sakit sekarang nggak? Saya baru aja keluar dari Cikarang menuju Bandung. Orang tuanya belum tahu status & penyakitnya… Sepertinya dia tidak tinggal dengan orang tuanya selama ini. Saya SMS nama dan bangsalnya ya? Sesampainya di Bandung nanti saya langsung kesana juga.” begitu kata Dokter Indra kepadaku. 


[dulu, kemarin atau barusan] Tidak Ada Bedanya...



Aku duduk di sisi ranjang yang dibalut sprei kusam. Seorang lelaki tergolek lemah, hampir tak sadarkan diri. Di sebelahku, istrinya yang masih muda – awal duapuluhan, duduk tertunduk sambil menangis lirih. Meskipun hal-hal seperti ini telah menjadi rutinitasku, namun setiap orang memiliki kisah yang berbeda. Dan setiap kali pula aku merasa jengah. Kadang aku pun tak tahu harus mulai dari mana. Kadang sulit untuk membuka pembicaraan untuk topik yang sulit ini…