Siang hari di daerah Subang Pantura bukanlah saat paling menyenangkan. Aku dan Wawan mengendarai motor menyusuri jalur Pantura yang ramai di bawah terik sorot matahari. Kami berlomba cepat bukan dengan mobil-mobil kecil, tapi dengan truk-truk kontener, thronton, truk gandeng dan sebangsanya. Setiap hari adalah uji nyali bagiku. Namun siang kali ini berbeda dengan siang hari-hari sebelumnya. Hari ini Wawan akan mengantarku ikut bergabung dalam pertemuan Kelompok Dukungan Sebaya setempat. "Dulu, aku pernah punya klien dampingan dari Subang juga. Namanya Eni dan Amin. Udah lama sekali aku nggak ketemu mereka, Wan..." aku berujar kepada Wawan ketika sedang makan malam sebelumnya. Wawan segera menghentikan kegiatan makannya, "Eni dan Amin, mbak?" tanyanya mengulang dua nama yang aku sebutkan. Aku menatapnya, "Iya, Wan. Eni dan Amin." aku mengulang lagi dengan setengah geli.
